Sabtu, 27 Mei 2006 adalah tepat 14 tahun yang lalu terjadi gempa
yang cukup besar di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa bumi berkekuatan
5,9 skala Richter selama 57 detik. Kejadian ini menjadi sejarah tersendiri bagi
kami yang merasakan gempa.
Saat itu aku tidak ada jadwal kuliah, posisinya di rumah. Pagi hari
sekira pukul 05.55.03 tiba-tiba terjadi guncangan hebat. Seumur hidup baru
merasakan gempa terbesar. Seisi rumah sudah pada keluar tinggal aku sendiri
yang paling akhir.
Begitu satu langkah keluar rumah, genteng berjatuhan. Nyaris kena
kepala. Di luar, nampak berjejer-jejer orang dengan raut wajah ketakutan, shock
dan kebingungan.
Akibat dari gempa ini, tembok rumah terbelah. Alhamdulillah tidak
terlalu parah. Daerah yang paling parah di Bantul. Kebetulan budheku yang
domisili di Bantul termasuk menjadi korban gempa yang cukup parah. Rumahnya
hampir rubuh.
Berhenti Sejenak Mengingat Yang Di Atas
Saat gempa itu terjadi, mengingatkan kita akan kematian. Sedang
sibuk-sibuknya aktivitas duniawi, tiba-tiba terhenti oleh guncangan gempa.
Semua menganga, menatap penuh kekosongan dan ketakutan. Bahwa kematian benar
ada di depan mata. Kita diingatkan oleh Pemilik Semesta Alam untuk
mempersiapkan diri bahwa ajal bisa kapan saja menjemput.
Gempa lalu berhenti. Tapi rasa ketakutan masih mendera. Aku berburu
masuk ke dalam rumah. Mulanya kami sekeluarga mengira bahwa ini adalah gempa
dikarenakan gunung Merapi meletus. Sebab beberapa hari lalu, berita terkini
gunung Merapi sedang aktif. Begitu dengar berita dari radio, eh ternyata salah.
Ini adalah gempa tektonik bukan vulkanik dari Gunung Merapi. Justru pusat gempa
dari daerah Bantul yang sebelumnya tidak terpikir sama sekali dari daerah situ.
Tak berselang lama berita gempa bumi tersebar. Hingga saudara dari
luar kota seperti Jakarta menghubungi. Efek dari gempa sinyal HP tidak ada
sehingga keluarga dari luar Jogja tak bisa menghubungi telpon seluler.
Satu-satunya sumber komunikasi adalah telpon rumah yang terus berdering saling
bertanya kabar. Kami pun juga bertanya kabar budhe yang ada l,
alhamdulillah keluarga selamat semua. Hanya saja, rumahnya rusak agak parah.
Beruntung tiang telpon rumah tidak roboh, kalau jatuh ya bakal wassalam
kesulitan komunikasi.
Setelah gempa mereda, semua anggota keluarga kembali aktivitas
masing-masing. Bapak, ibu dan kakak ngajar di sekolah, tinggal aku sendirian di
rumah.
Mendapat Tanda
Akan Terjadi Gempa
Sekira dua pekan atau satu bulan sebelum gempa itu terjadi. Aku
tidur siang di lantai. Tiba-tiba ada getaran kuat. Aku tergugah, beranjak dari
tidur, kukira terjadi gempa. Ternyata sebuah truck lewat dengan getaran yang
besar. Rasanya lega.
Namun ternyata, perasaan terjadi gempa itu benar-benar terjadi.
Nyatanya selang tak lama gempa besar mengguncang Yogya dan sekitarnya. Entahlah apakah tanda itu emang petunjuk atau hanya kebetulan saja.
Isu Tsunami
Sekira pukul 07.30 tiba-tiba masyarakat pada ribut ada info
tsunami. Katanya airnya sudah sampai Malioboro. Aku cukup ketakutan. Di rumah
sendirian pula. Bayanganku langsung melayang, teringat tsunami di Aceh dua
tahun lalu yang telah memporak-porandakan wilayah Aceh. Tak hanya bangunan yang
ludes, korban jiwa banyak yang berguguran.
Aku hanya berdiri di balik pintu, memandangi lalu lalang warga yang
berusaha menyelamatkan diri menuju ke utara arah gunung Merapi yang posisinya
di atas. Tapi aku tak berkutik. Di depan rumah, ada anaknya teman kakak dengan
wajah ketakutan. Karena kasihan, mengantar
dia ke rumahnya.
Tak berselang lama, kakak pulang. Sekolah diliburkan awal karena
isu tsunami. Kami berdua di rumah penuh kepasrahan. Mau melarikan diri ke utara
atau menuju gunung Merapi tidak mungkin. Sebab gunung dalam posisi aktif. Sama
saja dalam keadaan bahaya. Kami akhirnya memilih naik ke lantai dua sembari
membawa Alquran dan merapalkan doa-doa. Walau tersirat rasa kecemasan karena
bapak ibu posisi masih di luar. Sementara jalan depan rumah sudah lalu lalang
tanpa henti. Kendaraan dengan kecepatan tinggi tanpa berpikir resiko kecelakaan.
Dalam pikirannya yang penting selamat dari tsunami.
Lantunan doa terus kami ucapkan hingga situasi aman. Gempa susulan
terus muncul. Entah selang satu jam, dua jam.
Keajaiban Pertemuan
Di tengah kepanikan itu, ibu yang saat itu berada di sekolah diajak
teman guru naik mobil ikut bareng menyelamatkam diri ke atas menuju gunung Merapi. Dalam perjalanan
sekitar di daerah Pakem, ibuku tiba-tiba melihat bapak sedang mengendarai
mobil. Langsung saja ibu manggil-manggil bapak. Alhamdulillah bapak tahu dan
mereka bisa bertemu. Sungguh suatu keajaiban. Rasanya tidak mungkin saat di
jalan kita bisa bertemu anggota keluarga. Apalagi di saat warga penuh
kepanikan, jalanan lalu lalang kendaraan tanpa arah. Itulah pertolongan Allah
bisa mengumpulkan bapak dan ibu. Setelah itu bapak dan ibu pulang ke rumah.
Sesampai di rumah kami merasa lega. Saling bercerita pengalamam
masing-masing saat isu tsunami itu terjadi. Katanya sih, yang nyebar isu
tsunami itu oknum. Sengaja bikin gaduh, biar orang-orang pada ninggalin rumah.
Si penyebar isu bisa jarah isi rumah.
Dari kejadian ini pelajaran kita semua bahwa di saat panik tetap
tenang. Sebab bisa jadi ada pihak-pihak yang memanfaatkan kesempatan kejahatan
saat kita hilang kendali.
Tidur Pakai
Helm
Malam harinya terjadi hujan deras. Jaringan listrik mati. Setiap
berapa menit sekali terdengar suara sirine ambulance mengantar korban gempa.
Suasana begitu mencekam. Karena masih terjadi gempa susulan, saya dan kakak
tidur memakai helm. Pintu-pintu rumah tidak ada yang dikunci. Semenjak kejadian
itu, kalau malam hari kami tidak berani mengunci pintu rumah. Sebab gempa
susulan terus terjadi hingga kurang lebih dua tahun. Setelah itu masih ada
gempa susulan tapi frekuensinya sedikit.
Entah mengapa karena saking seringnya gempa kami jadi terbiasa
dengan getaran dan selalu waspada. Ketika ada getaran bergegas keluar rumah.
Perasaan waspada sampai terbawa saat aku pindah ke Sragen. Padahal
kejadian gempa sudah lama. Ketika tiduran di kasur tiba-tiba ada getaran kukira
gempa, langsung bergegas bangun dan keluar. Ternyata bukan gempa. Alhamdulillah
di Sragen tidak pernah ada gempa.



Komentar
Posting Komentar