Saat ini Badan Usaha Milik Masjid (BUMM) Masjid Raya Al-Falah, Sragen sudah mulai berproduksi. Ada pesanan 150 nasi bungkus. Nasi bungkus ini
dihargai beraneka ragam. Mulai dari Rp 3000,00, Rp 7000,00 dan Rp 10.000,00 per
bungkus. Pada Jumat, 7 Februari masjid Al-Falah telah menghidangkan 1250 nasi
bungkus kepada jemaah.
Hari Jumat adalah hari yang istimewa sehingga jangan sampai
dilewatkan begitu saja. Hendaknya diisi kegiatan yang bersifat ukhrawi salah
satunya pengajian. Belajar dari warung Spesial Sambal (SS) buka setelah Jumatan.
Pada pagi hari digunakan untuk belajar ilmu agama dan melatih kedisiplinan.
Pengajian bisnis pada hari Jumat diawali dari UMKM di
sekitar Al-Falah. Jumlahnya ada 35. Pak Kusnadi - takmir masjid Al-Falah - mengajak untuk sedekah
2000 rupiah setiap hari. Sementara alumni SBS diperkirakan ada 600 orang walau
yang hadir sekitar 40 orang diharapkan meniru gerakan mengaji dan sedekah tiap
jumat.
Dua hari lalu Pak Kusnadi diundang ke tempat Pak Heri di Jakarta.
Ada kampung sedekah di Bekasi, Bandung dan puncak Bogor. Mereka sepakat tiap
hari sedekah. Satu RW terkumpul 186 juta selama setahun.
1. Orang yang Rezekinya Dilimpahkan di Dunia dan Akhirat
Orang kaya yang suka bersedekah. Contohnya Usman bin Affan, kaya raya
namun juga gemar sedekah. Beliau membeli sumur dari orang Yahudi senilai 1 M
untuk keperluan umat. Saat ini hartanya di bank setahun 300 M dari berbagai
usaha yang berkembang seperti apartemen dan hotel.
2. Rezeki di dunia Sempit di Akhirat Luas
Orang yang miskin di dunia tapi rezekinya lapang saat di akhirat. Membangun
bisnis apa pun tidak pernah sukses. Bekerja dari pagi hingga petang tidak juga
kaya. Contoh muadzin Bilal. Di dunia hanya ngurusi masjid. Ekonominya biasa
saja. Tapi kabar baiknya terompahnya masuk surga.
3. Rezeki di Dunia Luas Tapi di Akhirat Sempit
Orang yang keperluan di dunia semua terpenuhi. Mau main ke mana
saja bisa karena punya uang. Tapi pelit untuk sedekah. Saat hidup di dunia
dilimpahkan rezekinya tapi karena pelit maka di akhirat menjadi sempit.
4. Rezeki di Dunia Sempit di Akhirat juga Sempit
Orang yang di dunia miskin, tapi tidak rajin ibadah. Hidupnya serba
kekurangan, namun sayangnya malas ibadah. Golongan ini benar-benar rugi. Susah
di dunia maupun di akhirat.
Pegawai di masjid Al-Falah ada 35 orang. Untuk menggaji pegawai
setiap bulan mengeluarkan dana sekira 40 juta. Pak kusnadi, bermimpi gaji
pegawai diambil dari Badan Usaha Milik Masjid (BUMM), tidak diambil dari kotak
infaq.
Kenapa masjid Al-Falah dibuat manajemen profesional? Sebab ingin meniru
manajemen Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Jumlah karyawan sekitar 1500.
Masjid buka 24 jam, lantai dipel terus dan selalu bersih. Untuk membiayai
operasional masjid, membutuhkan Badan Usaha Milik Masjid (BUMM) seperti hotel
Zam-Zam yang diwakafkan untuk Masjidil Haram. Keuntungan dari hotel ini untuk
biaya operasional Masjidil Haram.
Ada tamu yang datang ke masjid Al-Falah merasa senang karena
terlihat masjidnya hidup. Banyak kegiatan dan pemudanya begitu bersemangat.
Impian ke depan, masjid bisa menjadi tempat istirahat bagi
orang-orang musafir yang tidak mampu bayar hotel. Disediakan tempat tidur yang
nyaman seperti hotel dan sarapan.
Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, dari 1
bulir menjadi 7 bulir. Dari 7 bulir menjadi 1000 bulir.
Sedekah jor-joran bisa meniru dari ustadz dan pengusaha ini.
Ustadz Adi Hidayat waktu ngisi pengajian ngasih satu kontainer kurma. Rezeki
dari mana padahal beliau sibuk berdakwah? Banyak yang kerjasama dengannya, sehingga
rezeki seakan digelontorkan. Ketika ada masjid mau ngundang Ustadz Adi
Hidayat, beliau mau datang sendiri dengan biaya sendiri. Jadi ustadz datang
bukan untuk dibayar tapi malah bersedekah untuk masjid tersebut.
Dua tahun lalu Pak Seno, pemilik Aulia fashion punya utang 800 juta.
Sekarang omsetnya 5 miliar setelah mempraktikkan ilmu marketing langit. Salah
satu kuncinya yaitu gemar sedekah. Setiap penjualan baju 100.000 disedekahin
2000. Satu bulan sedekahnya hampir 100 juta. Pak Seno saat ngisi di Kebumen
nyumbang 10 juta. Ngisi di sini Al-Falah nyumbang 10 juta. Rencananya dalam
sebulan sekali ngundang Pas Seno, metani satu satu bisnis teman-teman
SBS.
Al arwahu junuudun mujannadatun
Ruh-ruh itu tentara-tentara yang saling bergerombol, saling
terikat dan saling berkumpul.
Ruh-ruh kebaikan akan saling bertemu. Ruh yang berbeda tidak suka
kebaikan maka tidak akan berkumpul. Di sini teman-teman SBS berkumpul karena
memang dalam satu frekuensi ruh dalam kebaikan. Jika tidak dalam satu frekuensi
pastilah tidak akan berkumpul di sini.
Teringat pesan coach Abi Darwis: Bisnis di level ke-dua bukan soal
profit tapi soal kebermanfaatkan kepada umat. Alumni SBS yang mayoritas
bergerak di bidang usaha untuk tidak hanya memikirkan profit tapi juga
kebermanfaatan umat.
1. Kepada Allah
Sebagai contoh saya pinjami (sedekah) Rp500,00 lalu minta
dikembalikan Rp100.000,00 kepada Allah. Hal ini boleh dilakukan. Hanya saja
saat pengembalian tidak diatur oleh mekanisme kita atau manusia, seperti
ngeluh, “Ya Allah, saya sudah sedekah Rp500,00 tapi kok sampai sekarang belum
dibalas?” Biarlah Allah membalas dengan caranya. Allah tetap akan membalas
kebaikan tidak selalu sesuai keinginan kita, karena Allah punya mekanisme
sendiri untuk mengembalikan.
2. Kepada Pasangan
Suami ngasih rumah, istri membalas dengan cinta.
Abdurrahman bin Auf orang kaya raya. Ia berhijrah meninggalkan harta dan
istrinya. Dalam kondisi tak memiliki apa-apa, bertemu dengan
orang yang kaya raya lagi dermawan yaitu Sa’ad bin Rabi. Orang dahulu ketika
sudah dipersaudarakan rasul totalitas membantu saudaranya. Enggak ada rasa
pelit. Sa'ad bin Rabi menawarkan harta miliknya dibagi dua untuk Abdurrahman bin Auf. Tapi Abdurrahman bin Auf menolak. Bahkan istri yang dimiliki Sa'ad bin Rabi ditawarkan kepada Abdurrahman bin auf.
“Saya memiliki dua istri, silakan ambil salah satu mana yang kamu
suka.”
Di zaman sekarang mungkin sudah sangat langka menemukan orang yang
mau merelakan harta untuk saudaranya. Lebih mengedepankan kepentingan sendiri.
Memang pada dasarnya manusia memiliki sifat egois dan ingin memperkaya diri.
Itulah pentingnya memiliki iman sehingga tidak diperbudak oleh keindahan dunia.
Orang beriman menjadikan harta bukan di hati, tapi cukup hanya di
tangan. Tidak berbahaya kalau harta dibawa orang bertakwa. Tapi, akan berbahaya
jika harta ada di hati orang bertakwa.
1. Sukses ibadah
2. Sukses bekerja
3. Sukses keluarganya
Begitu juga dengan anak:
1. Sukses mencari ilmu
2. Sukses berbakti
3. Sukses beribadah
Berikut pencapaian-pencapaian setelah menggerakkan sedekah
bersama-sama:
Pengumpulan dana Lazismu awalnya 15 juta setahun menjadi 8 M
setahun. Masjid Al-Falah mulanya kotak infaq terkumpul 12 juta sampai 16 juta
setelah diseriusi menjadi 100 juta.
UMKM di sekitar masjid Al-Falah sudah digerakkan sedekah Rp2000,00
setiap hari yang dikumpulkan setiap hari Jumat. Kini alumni SBS juga mulai
digerakkan sedekah Rp5000,00 per hari yang nanti dikumpulkan dan dibuatkan
rekening khusus alumni SBS. Dalam pertemuan kemarin uang infaq yang terkumpul
Rp1.042.000,00.
Membiasakan berinfaq setiap hari bisa dimulai dengan menyediakan tempat
uang di rumah, bisa berupa toples atau kaleng
bekas. Setiap ba’da subuh dibiasakan memasukkan uang ke dalam wadah tersebut. Jika
sudah terkumpul selama sepekan atau sebulan, bisa diserahkan kepada lembaga
yang mengelola infaq atau diberikan kepada yang membutuhkan.
Sumber: Kajian Bisnis oleh
Bapak Kusnadi dan Ustadz Lutfanudin di Masjid Al Falah , Jumat 7 Februari 2020 dan pengembangan penulis






Komentar
Posting Komentar