Langsung ke konten utama

Pentingnya Sense Of Business Bagi Penulis


Menjadi seorang penulis tak hanya cukup mahir dalam dunia menulis. Tapi juga harus dibekali sense of business. Dia harus mampu mempromosikan karya yang dihasilkan. Sebagai contoh seorang penulis buku, begitu karyanya selesai tidak hanya duduk manis menunggu atau mengharapkan kerja penerbit untuk mempromosikan bukunya. Namun, penulis pun harus aktif mengiklankan bukunya. Terutama di era digital, media sosial menjadi sarana penting untuk promosi.

Sebelum mengulas lebih dalam tentang materi ini. Pertemuan dengan teh Indari Mastuti - Mentor dan pendiri Ibu Ibu Doyan Nulis - lebih banyak bercerita tentang kisah beliau mengawali karir di dunia kepenulisan.






Cerita Karir Menulis Teh Indari

Teh Indari Mastuti memulai aktivitas menulis sejak kelas 2 SMA tahun 1996. Mulanya menulis majalah dinding, memasukkan ke media, dapat penghasilan berupa uang, tas dan lain sebagainya. Hasil dari menulis tidak selalu uang, ada juga berupa barang. Ia terus berkarya walau mulanya bayaran sedikit. Untuk penulis pemula, jika mendapat tawaran penerbit atau media dengan bayaran kecil, sebaiknya diambil saja. Jangan terlalu pilih-pilih. Nanti berjalannya waktu dengan naiknya kualitas kita maka bayaran akan naik.

Tahun 2007 mulai menekuni dunia menulis secara profesional. Lalu 24 Mei 2010 berdirilah Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN). Dari tahun 2004-2019 teh Indari telah melahirkan 100 buku. Dalam proses pengerjaan ini, menjelang akhir tahun 2019 ternyata belum genap 100 buku, padahal target beliau harus 100 buku. Di tengah kekurangan itu, ia kembali membuka file-file lama, ternyata menemukan banyak naskah yang belum dibukukan. Dari file-file itu tinggal dipoles sedikit sudah bisa menjadi buku. Tidak perlu menulis daril nol untuk mengejar target.

Trik ini mungkin bisa dipraktikkan kepada kita yang ingin produktif menulis. Coba untuk mencari file-file lama siapa tahu menemukan naskah yang belum selesai, bisa untuk diperbaiki dan diterbitkan. Tidak selalu menulis dari awal.

Indscript mempunyai program “bukuin aja.” Tujuan program ini untuk membantu para penulis agar tetap bisa menerbitkan bukunya dengan biaya murah. Berhubung antrian  naskah di indscript cukup panjang dan tidak semua lolos ke penerbit mayor, maka indscript punya inisiatif membantu penulis menerbitkan buku. Biayanya hanya 300 ribu sudah termasuk lay out, desain, edit, 2 dummy).




Kisah Teh Indari Menulis Biografi





Sebelumnya teh Indari belum pernah menulis biografi, tiba-tiba mendapat tawaran. Beliau merasa tertantang, langsung menerima tawaran tersebut. Tapi teh Indari bilang, “Saya pertama kali menulis biografi, nanti mohon dikasih masukan.” Dalam prosesnya memang ada banyak revisi. Namun, dari sini pengalaman baru bertambah menjadi peluang menulis buku-buku biografi selanjutnya.

Teh Indari pernah menulis biografi pemilik brownies Amanda dari Bandung. Setelah bukunya terbit, buku-buku tersebut oleh pemilik dibagi-bagikan secara cuma-cuma. Berhubung di dalam buku itu ada kontak teh Indari, mulai dari situ banyak pihak yang menghubungi dan bekerjasama menulis biografi.


Penulis Harus Eksis di Media Sosial

Menjadi penulis tak hanya bisa menulis, tapi juga dapat membisniskan tulisannya. Apa value kita dibanding penulis lain. Berdasarkan pengalaman teh Indari pernah bertanya ke beberapa penerbit. Ternyata penerbit mencari penulis yang eksis di media sosial. Bahkan terkadang, orang yang kurang mampu menulis tapi di media sosial begitu ngetop bisa jadi incaran penerbit untuk menjadi penulis.

Salah satu cara agar postingan kita disukai orang, selain kontennya bagus, kita juga jangan pelit memberi like, komen pada orang lain. Beri target sehari like dan komen selama 10 menit di akun media sosial teman. Nanti akan ada perubahan perlahan-perlahan interaksi FB kita.

Untuk menjadi penulis perlunya branding diri. Apa bedanya branding diri dengan pencitraan?
Branding diri: menguatkan kelebihan unik dari diri sendiri
Pencitraan: melakukan apa yang ingin orang ekspetasikan
Branding diri ini dapat dilakukan di media sosial.


Penulis Butuh Komunitas





Penulis membutuhkan sebuah komunitas. Komunitas adalah lumbung kita untuk menambah semangat. Walau semangatnya naik turun tapi ada rasa kekeluargaan.

Ada banyak manfaat ikut komunitas. Di sana selain tempat untuk menjalin silaturahim, bisa juga mendatangkan rezeki. Di sebuah komunitas kita bisa mempromosikan bukunya. Di komunitas pun ada banyak informasi termasuk lowongan pekerjaan. Makanya pentingnya berjejaring di sana bisa mendapatkan banyak hal: ilmu, teman dan rezeki.


Menulis Bisa Menjadi Penghasilan Utama

Aktivitas menulis tidak bisa disepelekan. Jika dijalankan dengan serius akan menghasilkan pundi-pundi rupiah. Hal ini yang dialami oleh teh Indari Mastuti. Saat hamil anak pertama; Nanit, sudah bisa beli rumah dari penghasilan menulis. Menulis pun bisa menjadi sumber penghasilan utama.

Teh Indari pernah menulis satu buah review di blog dengan tarif yang sangat fantastis. Dia mulanya tidak mengira bakal dibayar segitu. Itulah namanya rezeki yang kadang tak terduga.


Menjaga Hubungan Baik dengan Pihak yang Berjasa di Dunia Kepenulisan

Sebagai penulis pasti tidak lepas dengan hubungan kerjasama dengan pihak lain. Diantaranya dengan penerbit atau klien yang memakai jasa kita. Jika saat menjalin kerjasama menemui hal-hal yang kurang berkenan, jangan sekali-kali menjelek-jelekkan orang yang pakai jasa kita. Sebab itu menunjukkan siapa diri kita. Walau saat menulis pernah digaji kecil, jangan “nggrundel” di media sosial. Kalau pun bayarannya kecil tetap syukuri, lalu tingkatkan kualitas. Uang akan datang seiring dengan profesionalnya kita.


Penulis Perlu Masa Bodoh Hal Sepele

Teh Indari menceritakan dirinya tidak mempedulikan berita apa saja yang bersliweran di media sosial. Mau cerita layangan putus atau apa saja tidak ikut-ikutan ditulis di media sosial. Fokus produktif berkarya.

Omongan orang tentang kita jangan terlalu dipedulikan. Mau orang bilang apa, tetap fokus ke depan. Kalau itu kritik membangun, bisa dipertimbangkan. Namun, jika kritik untuk menjatuhkan lebih baik tinggalkan.  

Mulanya mental teh Indari mudah rapuh. Apalagi memegang komunitas dengan beragam orang dan karakter. Awal-awal sering menangis di hadapan suami. Tapi berjalannya waktu semakin kuat. Mau dibilang apa, beliau fokus untuk meraih pencapaian.


Nulis dan Bisnis Harus Jalan Bareng

Sebagai penulis, antara nulis dan bisnis saling berkaitan. Nulis harus jalan, bisnis pun harus jalan. Ada saatnya fokus nulis, ada saatnya fokus bisnis. Bisnis dan nulis bersamaan, ibarat kembar siam.

Produk dari menulis salah satunya buku. Dari buku ini butuh ilmu bisnis agar produknya laris. Tak hanya itu, saat proses menulis pun kita harus menetapkan tujuan, buku ini siapa target marketnya. Tidak nggebyah uyah – semua kalangan – jadi sasaran. Artinya bahwa penulis tak cukup mampu mengolah kata menjadi bagus tapi juga butuh sense of business.


Penulis Harus Percaya Diri





Menjadi penulis harus percaya diri. Untuk menjadi PeDe di level 10 seperti Teh Indari membutuhkan proses dan latihan. Teh Indari bercerita, dulu saat SMA pernah dengan pedenya bilang akan menulis novel. Setelah novelnya terbit, ada media yang memberitakan. Tapi sayangnya bukan berita baik. Isinya justru kritikan novel tersebut yang kurang masuk akal. Awal membaca berita itu langsung menangis, malu. Novelnya terbit bukannya mendapat sambutan hangat tapi malah kritikan. Tapi dari kejadian itu tak membuatnya patah semangat. Ia terus memperbaiki diri.

Pernah juga saat beliau mendapat penghargaan sebagai perempuan inspiratif. Beliau ikut ajang ini tujuan awalnya untuk branding dan tak menyangka malah terpilih. Tak sedikit yang tidak suka dengan penghargaan yang diperolehnya itu. Dianggap tidak layak. Tapi teh Indari tak mempedulikan, ia tidak toleh kanan kiri mendengar cibiran. Fokus lurus ke depan untuk terus berkarya. Pasti ada saja orang yang tidak suka dengan prestasi kita. 


Pendelegasikan Pekerjaan Kantor

Teh Indari mendelegasikan pekerjaan kantor kepada orang lain. Pendelegasian ini dengan membuat fotocopy dirinya. Ia dibimbing, diajari sampai benar-benar bisa dan mandiri. Manfaat pendelegasian pekerjaan kantor ini, kini teh Indari tidak perlu capek-capek mengurusi hal-hal teknis.


Pendelegasian Pekerjaan Rumah Tangga

Sebagai ibu rumah tangga, pekerjaan domestik rumah tangga tidak akan ada habisnya. Setiap hari selalu ada. Satu hari saja menunda pekerjaan, maka besok bakalan menumpuk pekerjaan lagi.

Ketika seorang ibu rumah tangga memutuskan tetap berkarir, maka ada hal-hal yang harus didelegasikan. Rasanya tidak mungkin seorang ibu rumah tangga bisa sukses berkarir tapi semua pekerjaan rumah, dia kerjakan sendiri.

Hal ini pun yang dilakukan teh Indari. Beliau tidak mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, ngepel, menyapu, menyetrika karena akan bikin capek fisik yang akan mengurangi produktivitas. Ia mendelegasikan pekerjaan ini kepada pembantu. Tapi, ada saatnya teh Indari mengecek pekerjaan rumah.

Apabila istri memilih ingin produktif dari rumah dan ingin mendelegasian pekerjaan rumah tangga, sebelumnya harus berkonsultasi dengan sang suami dulu. Jika suami mengizinkan maka tidak masalah. Namun, jika suami merasa keberatan dan ingin semua pekerjaan rumah dikerjakan istri, maka sebaiknya dipikirkan lagi, dicari jalan tengah agar semua bisa menerima dengan legowo.


Manajemen Waktu Teh Indari Mastuti






Pukul 03.00: bangun tidur, tahajud, baca qur’an.

Pukul 03.30 – adzan subuh: bikin list materi di telegram, FB, WA. Jika masih ada waktu, ½ jam untuk menulis.

Pukul 05.00 – 07.00: pekerjaan rumah dikerjakan sama pembantu.

Pukul 07.30 - 09. 30: sudah on di media sosial.

Pukul 10.00: mengecek pekerjaan rumah tangga.

Pukul 10.00 – 12.00: menerima tamu

Pukul 12.30 – 15.00: tidur siang nemani si bungsu Aisyah.

Pukul 17.00: anak-anak belajar dengar orangtua.

Waktu maghrib: Mengaji

Menjelang tidur family time:

- Story telling, cerita orangtua saat kecil.

- Sesi curhat

Pada sesi curhat menanyakan kabar anak. “Are happy today?” Jika ternyata dia hari ini tidak bahagia, ditanyakan penyebabnya. Nanit, anak sulung teh Indari pernah merasa tidak bahagia. Sebab diejek temannya karena memakai sepatu KW. Yang beliin sepatu adalah   teh Indari, tapi teteh tidak tahu kalau sepatu itu KW. Lalu teh Indari menasihati ke Nanit, “Jangan biarkan orang lain menyakitiku.” Setelah itu Nanit merasa ceria dan lega.

Pukul 19.30 waktunya tidur.

Nasihat teh Indari tentang “Jangan biarkan orang lain menyakitiku” begitu bermakna. Ketika ada orang lain yang mungkin perkataan atau perbuatannya menyinggung perasaan. Jangan biarkan perasaan kita jadi sakit. Sebetulnya yang membuat kita bahagia atau tidak adalah diri kita sendiri bukan orang lain.

Manajemen waktu teh Indari ini bisa juga dipraktikkan dengan ibu-ibu yang lain. Tentu sifatnya fleksibel menyesuaikan kebutuhan masing-masing keluarga.

Sumber: Materi ngobrol bareng teh Indari “Pentingnya Sense Of Business Bagi Penulis” dan pengembangan penulis.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyembunyikan Infaq

Bulan suci ramadhan adalah bulan  yang penuh berkah. Sebagian besar umat muslim memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak amal sholih salah satunya dengan sedekah. Kotak infaq hampir setiap hari selalu terisi. Tidak heran jika hasil infaq di bulan ramadhan cukup banyak. Ada sebuah kejadian menarik saat menghitung uang infaq. Mungkin si pemberi infaq sudah pernah mendapatkan kajian ilmu tentang menyembunyikan sedekah. Beberapa video viral tentang seseorang yang membungkus uang seratus ribu dengan uang seribu. Saya pikir ini hanya sekadar video saja. Tapi ternyata ada yang menirukannya. Di sebuah mushola, saat penghitungan  uang infaq satu persatu uang lembaran dibuka, dirapikan dan dihitung. Sebagian besar berisi uang dua ribuan. Tapi untuk yang satu ini agak aneh. Uang dua ribuan tapi kok agak tebal. Setelah dibuka ternyata di dalamnya ada uang lima puluh ribu. Benar-benar tidak menyangka. Sebagian besar mengira bahwa orang ini ingin menyembunyikan sedekah. J...

Tak Ada yang Terlahir sebagai Produk Gagal

Ilustrasi. Sumber: pexels.com Manusia yang terlahir di dunia beragam bentuknya. Ada yang gemuk, kurus, cantik, ganteng, berwajah standard an lain sebagainya.  Namun ada pula yang memiliki keistimewaan fisik tangannya kecil,tak meiliki kaki, sulit berbicara dan mendengar. Ada juga yang memiliki penyakit langka yaitu kulitnya mengelupas.  Tadi pagi tak sengaja menemui seorang bocah sekira usia 10 tahun. Ia memakai kaos dan calana panjang biru.  Ilustrasi. Sumber: pexels.com                                                                             Sekilas tak ada yang aneh dari anak ini. Tapi,begitu diperhatikan dengan seksama ternyata ia mengalami masalah dengan kulit. Tampak kulit sekujur tubuhnya mengelupas, pecah-pecah kecoklatan.  K...

Berhenti Sejenak

  Sabtu, 27 Mei 2006 adalah tepat 14 tahun yang lalu terjadi gempa yang cukup besar di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter selama 57 detik. Kejadian ini menjadi sejarah tersendiri bagi kami yang merasakan gempa.   Saat itu aku tidak ada jadwal kuliah, posisinya di rumah. Pagi hari sekira pukul 05.55.03 tiba-tiba terjadi guncangan hebat. Seumur hidup baru merasakan gempa terbesar. Seisi rumah sudah pada keluar tinggal aku sendiri yang paling akhir.   Begitu satu langkah keluar rumah, genteng berjatuhan. Nyaris kena kepala. Di luar, nampak berjejer-jejer orang dengan raut wajah ketakutan, shock dan kebingungan.   Akibat dari gempa ini, tembok rumah terbelah. Alhamdulillah tidak terlalu parah. Daerah yang paling parah di Bantul. Kebetulan budheku yang domisili di Bantul termasuk menjadi korban gempa yang cukup parah. Rumahnya hampir rubuh. Berhenti Sejenak Mengingat Yang Di Atas   Saat gempa itu terjadi,...