Langsung ke konten utama

Mengenal Penjual Buku Legendaris di Sragen; Bapak Mulyono



Oleh: Tafi Ikhta


Tidak semua orang dihinggapi rasa cinta terhadap buku. Apalagi di era serba digital, gawai seakan menjadi “pacar" setia menemani setiap hari. Bisa dibayangkan berapa lama kita memandangi gawai ketimbang suami atau istri. Eit, maaf ya buat yang masih jomblo. Ah, apalagi buku. Termasuk deretan pilihan paling akhir untuk disentuh.

Buku selalu identik dengan anak-anak sekolah, kuliah atau pengajar. Sebagian besar mereka yang mau mendekat dengan buku karena ada tugas sekolah atau kuliah. Walau ada beberapa yang memang maniak terhadap buku. Tapi bisa dihitung dengan jari. Biasanya orang di kalangan ini mendapat julukan “kutu buku.”

Identik seseorang dengan kacamata tebal, pendiam dan lugu. Selalu membawa buku ke mana pun dia pergi. Tapi, kini kutu buku tak selalu demikian. Banyak orang yang mencintai buku tanpa harus memakai kacamata. Bahkan mereka terlihat gaul.

Kecintaan pada buku juga menjalar pada pria paruh baya asal Sragen; Bapak Mulyono. Beliau menyukai buku sudah sejak lajang.





Sepak Terjang Penjualan Buku

Bapak Mulyono mulai menggeluti dunia penjualan buku sejak 1989. Biasanya orang mencintai buku karena berada dalam keluarga yang mendukung dunia literasi. Misal, orangtuanya mencintai buku atau berprofesi sebagai guru. Tapi, tidak untuk Pak Mulyono. Baik orangtua, saudara kandung tak ada satu pun yang menyukai buku. Boleh dikata beliau adalah satu-satunya yang mendapat “hidayah.”

Di kota Sragen yang notabene bukan sebuah kota pelajar, beliau berani babat alas berjualan buku. Awal-awal penjualan cukup besar. Terutama untuk anak-anak sekolah. Ini merupakan peluang besar baginya terlebih belum ada saingan. Ditambah lagi, saat itu belum ada godaan gawai. Selain menjual beliau juga menyewakan buku. Peminjam cukup bermodalkan kartu pelajar. Meski ada yang jujur mengembalikan buku, ada pula yang tidak.





Namun, sekitar tahun 2000-an beliau sempat beralih profesi, jualan dan penyewaan CD. Sebab saat itu keberadaan CD sedang booming. Penjualan buku terhenti untuk sementara.


Tapi lagi-lagi karena kecintaan kepada buku sudah mendarah daging, ketika beralih ke bisnis yang lain, ia selalu ingin kembali ke buku. Begitu seterusnya. Ia berjualan buku di pinggir rel kereta api, sederet dengan Tumpang KPU yang dulu. Namun, sayangnya semenjak pembangunan rel ganda kereta, terjadi pergusuran para pedagang di sekitar situ.


Buku-buku milik Pak Mulyono disimpan di sebuah rumah di Teguh Jajar. Lokasinya kalau dari arah adipura jalan Sukowati ke selatan. Ada palang sepur, tepat di kiri jalan ada gapura. Masuk terus, sebelum jembatan belok kiri terus melewati jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi rerumputan.





Tiba di sebuah rumah sederhana berdinding kayu. Di sinilah rumah tempat penyimpanan buku-buku. Beliau tidak tinggal di sini. Hanya untuk menyimpan buku saja.







Di situ tampak buku berserakan. Ada yang masih bendelan diikat tali, ada juga yang sudah dibuka. Sebagian besar dalam kondisi baik, meski ada kurang. Walau buku-buku lama tapi yang dijual semua orisinal.




Suka Duka Berjualan Buku

Pak Mulyono seringkali mendapat pesanan buku dari anak sekolah, orangtua siswa atau guru. Pernah mendapat pesanan buku dari orangtua siswa. Kebetulan stok di rumah tidak ada. Beliau tetap mencarikan buku ke kota Solo meski hanya memesan satu buah, demi memberikan service yang terbaik. Padahal kalau dihitung-hitung, biaya bensin tidak nutup untuk harga bukunya. Tapi, bapak ini tidak mempedulikan, yang penting pembeli senang dan puas.


Untuk kulakan buku, beliau kadang membeli kiloan dari pedagang yang datang ke Sragen. Paling sering kulakan ke Solo. Jualan buku Pak Mulyono sudah terbilang lama. Sekitar 30 tahunan walau sempat berhenti beberapa saat. Menurut cerita beliau, Pak Mulyono lebih dulu berjualan dibanding pedagang buku di Gladak, Solo.



Memborong buku 1 dus 


Orangtua Siswa Tak Mendukung Membaca Buku

Rasa miris akan rendahnya minat baca buku juga dirasakan oleh Bapak Mulyono. Banyak orangtua siswa terutama yang berpendidikan rendah melarang anaknya membaca buku selain buku pelajaran. Saat si anak ketahuan membaca buku lain, langsung dimarah-marahi.

Selain itu, anak yang hobi baca buku dianggap aneh sama teman-temanya. Seperti merasa terkucil. Dia tidak berani menampakkan baca buku di hadapan kawan-kawannya.


7 buah buku hanya dihargai 60.000


Meski lapak bukunya harus tergusur karena pembangunan rel ganda kereta api. Tak membuat gairah berjualannya padam. Tekad berjualan buku tetap membara. “Saya akan kulakan buku lagi,” ucapnya. Apalagi sekarang ada Club Buku Sragen sebuah pecinta buku di Sragen. Tentu bisa menjadi target market bagi beliau.

Selain berjualan buku, Pak Mulyono juga buka usaha hik atau angkringan di basecamp Kumpulan Wong Sragen (KWS). Buat kalian yang ingin belanja buku, bisa menemui beliau di hik KWS.



Komentar

  1. Terima kasih mba Tafi ikhta dan kawan2 Literasi buku Sragen atas kunjungannya di gubuk kami terutama kepeduliannya pada buku buku kami������

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyembunyikan Infaq

Bulan suci ramadhan adalah bulan  yang penuh berkah. Sebagian besar umat muslim memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak amal sholih salah satunya dengan sedekah. Kotak infaq hampir setiap hari selalu terisi. Tidak heran jika hasil infaq di bulan ramadhan cukup banyak. Ada sebuah kejadian menarik saat menghitung uang infaq. Mungkin si pemberi infaq sudah pernah mendapatkan kajian ilmu tentang menyembunyikan sedekah. Beberapa video viral tentang seseorang yang membungkus uang seratus ribu dengan uang seribu. Saya pikir ini hanya sekadar video saja. Tapi ternyata ada yang menirukannya. Di sebuah mushola, saat penghitungan  uang infaq satu persatu uang lembaran dibuka, dirapikan dan dihitung. Sebagian besar berisi uang dua ribuan. Tapi untuk yang satu ini agak aneh. Uang dua ribuan tapi kok agak tebal. Setelah dibuka ternyata di dalamnya ada uang lima puluh ribu. Benar-benar tidak menyangka. Sebagian besar mengira bahwa orang ini ingin menyembunyikan sedekah. J...

Tak Ada yang Terlahir sebagai Produk Gagal

Ilustrasi. Sumber: pexels.com Manusia yang terlahir di dunia beragam bentuknya. Ada yang gemuk, kurus, cantik, ganteng, berwajah standard an lain sebagainya.  Namun ada pula yang memiliki keistimewaan fisik tangannya kecil,tak meiliki kaki, sulit berbicara dan mendengar. Ada juga yang memiliki penyakit langka yaitu kulitnya mengelupas.  Tadi pagi tak sengaja menemui seorang bocah sekira usia 10 tahun. Ia memakai kaos dan calana panjang biru.  Ilustrasi. Sumber: pexels.com                                                                             Sekilas tak ada yang aneh dari anak ini. Tapi,begitu diperhatikan dengan seksama ternyata ia mengalami masalah dengan kulit. Tampak kulit sekujur tubuhnya mengelupas, pecah-pecah kecoklatan.  K...

Berhenti Sejenak

  Sabtu, 27 Mei 2006 adalah tepat 14 tahun yang lalu terjadi gempa yang cukup besar di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter selama 57 detik. Kejadian ini menjadi sejarah tersendiri bagi kami yang merasakan gempa.   Saat itu aku tidak ada jadwal kuliah, posisinya di rumah. Pagi hari sekira pukul 05.55.03 tiba-tiba terjadi guncangan hebat. Seumur hidup baru merasakan gempa terbesar. Seisi rumah sudah pada keluar tinggal aku sendiri yang paling akhir.   Begitu satu langkah keluar rumah, genteng berjatuhan. Nyaris kena kepala. Di luar, nampak berjejer-jejer orang dengan raut wajah ketakutan, shock dan kebingungan.   Akibat dari gempa ini, tembok rumah terbelah. Alhamdulillah tidak terlalu parah. Daerah yang paling parah di Bantul. Kebetulan budheku yang domisili di Bantul termasuk menjadi korban gempa yang cukup parah. Rumahnya hampir rubuh. Berhenti Sejenak Mengingat Yang Di Atas   Saat gempa itu terjadi,...