Don't Sweat The Small Stuff
Jangan Memusingkan hal-hal kecil
(Dr. Wayne Dyer)
Penulis buku: Richard Carlson
Ali bahasa: Siti Gretiani
Desain Sampul: Suprianto
Setting: Ryan Pradana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama: Mei 2019
Cetakan kedua: Juni 2019
ISBN: 978-602-06-3026-7
978-602-06-3027-4 (digital)
Ini adalah
pertama kalinya saya membuat review sebuah buku. Mungkin bisa dibilang bukan
review tapi hanya sekadar meringkas, ilmu apa saja yang bisa dipetik dari buku
ini. Buku “Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar” berisi 100 bab yang
tiap-tiap bab hanya ditulis sekitar 1-3 halaman. Dengan isi yang tidak terlalu
banyak, membuat kita tidak mudah bosan. Bahasanya pun sederhana dan mudah
dipahami. Hanya saja merupakan buku terjemahan sehingga ada beberapa kalimat
yang agak aneh dan sulit dipahami. Tapi itu hanya sebagian kecil saja.
Buku ini
berisi strategi-strategi yang sudah diterapkan para kliennya Richard Carlson dan
terbukti memberikan manfaat. Dengan mempraktikkan strategi ini bukan berarti
hidup menjadi sempurna, tetapi meminimalisir hambatan. Berikut beberapa poin
strategi yang saya ingat dan bisa dipraktikkan dalam kehidupan.
1. Berdamai dengan Masalah
Kehidupan manusia pasti tidak terlepas dengan yang namanya masalah.
Siapapun pasti tidak menyukai hal ini. Inginnya hidup damai tanpa ada kendala
sedikit pun. Tapi, pada kenyataannya hidup di dunia pasti berhadapan dengan
masalah. Bagaimana seharusnya kita menyikapi problem tersebut. Buku ini
mengajarkan kita untuk tidak melawan atau menghilangkan masalah. Namun,
merangkul dan berdamai dengan masalah. Justru menjadikan masalah bagian dari
hidupnya.
2. Menyikapi Orang Sombong
Perilaku sombong seringkali membuat orang lain tidak suka. Namun, kita
tidak dapat mengendalikan pikiran orang lain. Misal bilang, “Mbok kamu jangan
sombong, saya tidak suka.” Ketika menasihati secara frontal seperti itu belum
tentu yang dinasihati mau menerima. Kebanyakan justru akan menolak sebuah
nasihat atau bahkan dia tidak merasa sudah bersikap sombong. Daripada sibuk
mengoreksi orang lain lebih baik kitalah yang mengendalikan diri.
Ketika ada orang yang sombong, sebagian besar dari kita tidak tahan untuk
membalas dengan kesombongan pula. Tapi,
dalam buku ini mengajarkan kita untuk menahan. Tahanlah! Biarlah dia
menceritakan kesombongannya. Terus sikap kita bagaimana? Ditanggapi dengan
baik. Seperti bilang, “Oh, begitu ya.” Mungkin tanggapan seperti ini ada yang
tidak setuju dan bilang, “Wah dia bisa semakin sombong dong.” Ya, biarlah.
Kalau kita lawan dengan sebuah kesombongan, maka sesungguhnya kita sedang
terjebak dalam masalah kecil. Anggap saja orang sombong itu masalah sepele yang
tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Bukan saatnya pula kita berbagi tentang
kelebihan kita.
Terus apakah berarti kita mengamini sebuah sikap sombong? Jelas tidak. Di
buku ini sedang tidak membahas sombong adalah sebuah keburukan. Tapi membahas
tentang bagaimana kita mengatur diri agar bisa mampu mengendalikan diri dan
tidak terjebak perkara-perkara sepele yang akan menguras energi atau dipenuhi
energi negatif.
It's All Small Stuff
Semua masalah dalam hidup ini cuma masalah kecil
(Dr. Wayne Dyer)
3. Fokus Pada Satu Pekerjaan
Seringkali kita dihadapkan pekerjaan sekaligus. Menerima telepon disambi
memasak, mencuci. Hal ini mungkin dianggap lebih efektif, karena bisa
dikerjakan dalam satu waktu. Namun, kemampuan kita tidak naik semakin baik. Sebab
tidak fokus. Memasak sambil telepon. Gerakannya memasak, tapi pikirannya ke
mana-mana. Jadinya masakan yang dihasilkan tidak enak.
Fokus terhadap satu pekerjaan telah diaplikasikan oleh penulis. Hasilnya
kemampuan dalam hal kehidupan seperti menulis, membaca, membersihkan rumah dan
lain sebagainya semakin baik.
4. Layani Hal yang Mengganggu Pekerjaan
Saat kita sedang bekerja terkadang muncul hal-hal yang mengganggu.
Seperti yang dialami penulis buku tersebut. Ketika ia lagi fokus menulis. Tiba-tiba
buah hatinya menghampiri ruang kerja. Otomatis fokus menulis jadi kacau. Tidak
sedikit reaksi orang pada umumnya cenderung marah terhadap si “penggangu” dalam
hal ini anak. Tapi, reaksi Richard Carlson justru menanggapi anaknya dengan
penuh kasih sayang. Baginya, si anak datang ke ruang kerja bukan bermaksud
mengganggu tapi ingin bercengkrama dengannya. Berarti ada rasa kasih sayang
dari si anak terhadap ayahnya. Dari pada otot menegang marah-marah lebih baik
dilayani dengan baik, paling juga tidak terlalu lama si anak mengganggu sang
bapak.
5. Kendalikan Emosi Saat Berkendara
Saat berkendara seringkali menemui pengendara lain yang penuh emosi.
Inginnya dia cepat sampai. Kebut sana kebut sini. Jika ada yang mengganggu
sedikit saja, langsung klakson dengan lama. “Pokoknya saya harus lebih dulu,
kalian minggiiir..!!” Sikap seperti ini justru akan menguras energi. Energi
kita habis untuk marah-marah dan tegang di perjalanan.
Richard Carlson pernah mengalami sebuah mobil yang berjalan bersamaan
dengan mobil yang dikendarainya di jalan tol. Dia mengendarai dengan
terburu-buru dan penuh emosi. Salip sana salip sini. Tapi entah kenapa, Richard
justru tiba di San Jose, lebih dulu. Artinya apa? Si pengendara agresif tadi sampai
marah-marah, tegang dan emosi, beresiko tinggi bagi diri dan keluarga tapi
tidak membuahkan hasil. Sementara yang satunya mengendarai dengan tenang, malah
tiba lebih dulu. Kalau hasil akhirnya justru si pengendara tenang lebih dulu, berarti
pengendara agresif tadi telah rugi diliputi oleh perasaan tegang dan marah tapi
kalah. Buang-buang energi. Kalau pun terburu-buru, tetap berusaha tenang,
jangan marah. Pada bagian ini yang terkadang sulit untuk dipraktikkan karena
kita lebih dipenuhi rasa egoisme.
6. Berorientasi Pada Masa Sekarang
Manusia seringkali merasa tidak puas dengan apa-apa yang sudah dicapai.
Ketika mendapatkan sesuatu yang diimpi-impikan, tiba-tiba kebahagiaan itu
sirna. Sebab begitu cita-cita yang diharapkan didapat, dengan segera memiliki
keinginan baru. Tanpa menikmati apa yang sudah diraih.
Sebagai contoh, ada seorang yang sangat menginginkan menjadi PNS. Setiap
lowongan CPNS selalu mendaftar. Dimana pun. Bahkan sampai tes ke luar pulau pun
ia jalani. Hingga suatu titik, usahanya berhasil. Bahkan diterima di dua
tempat. Ia harus memilih dari dua pilihan tersebut.
Tentunya orang lain menganggap bahwa dia pasti bahagia karena apa yang
dicita-citakan tercapai. Ternyata tidak. Kebahagiaan hanya sesaat. Begitu
menjadi PNS, dia merasa kecewa dengan gaji yang didapat tidak terlalu besar.
Dari situ hilang semua kebahagiaan yang dia impikan sebelumnya.
Kisah ini menggambarkan betapa kurangnya berorientasi pada masa sekarang.
Kalau pun menemui kekurangan setidaknya harusnya bersyukur karena dulunya tak
memiliki penghasilan sekarang sudah memiliki pendapatan tetap.
7. Orang yang Santai Tidak Selalu Tak Bisa Berprestasi Tinggi
Seringkali muncul anggapan bahwa orang yang santai dan tenang seperti
orang yang malas sehingga sulit untuk sukses. Akibatnya banyak orang menjalani
hidup seperti dalam keadaan darurat. Tergesa-gesa, bersikap kompetitif, cemas,
panik, takut kehilangan kesempatan. Padahal hal ini tidak selalu benar. Pada kenyataannya
malah yang terjadi sebaliknya. Ketakutan, pikiran kalut, cemas justru
membutuhkan energi yang besar. Mematikan kreativitas dan motivasi hidup. Apa
pun keadaannya dihadapi dengan tenang. Sebab dengan tenang dan damai, kita bisa
berpikiran jernih dalam mengambil keputusan.
8. Jangan Menyalahkan Orang Lain
Bila suatu keadaan tidak sesuai yang kita harapkan acapkali menyalahkan
orang lain atau menyalahkan keadaan. Ada barang miliknya hilang, pikirannya langsung
menuduh ke orang lain. “Pasti si dia memindahkan barang milikku. Dia kan
orangnya pelupa.” Memang menyalahkan orang lain paling enak. Kita merasa lepas
tanggungjawab. Tapi, dengan sering menyalahkan orang lain pertanda kita tak
berani bertanggungjawab. Menyalahkan orang lain membutuhkan energi yang besar
menggangu pikiran, menciptakan stres dan penyakit. Kebahagiaan kita dalam
kendali orang lain karena tergantung pada tingkah laku orang lain. Untuk
mencapai kebahagiaan itu, kitalah yang bisa mengontrol. Berhenti menyalahkan
orang lain.
Itu tadi beberapa strategi yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan
sehari-hari. Sebenarnya ada banyak jumlahnya tapi saya tidak mungkin menuliskan
semuanya.



Baru segini udah nangkep, sering sering mba meringkas isi buku.
BalasHapusYa siaap. Makasih sudah berkomentar di blog saya.
Hapus