Oleh: Ustadz Taufiqurrahman, S.Kom, M.Pd
Rangkuman materi kajian Tabligh Akbar Umat Islam Karangmalang
dan sekitarnya. Bertempat di Jagan pada 26 Oktober 2019.
Orang hidup di dunia secara umum ukurannya ada dua: harta dan
anak. Orang dibilang sukses jika memiliki harta dan anak yang banyak.
Ada sebuah kisah pasangan suami istri yang hingga penantian
15 tahun belum diberi keturunan. Mereka hingga adopsi anak ke kota Yogyakarta.
Di sana ada 12 bayi. Sudah tertarik salah satu bayi. Tapi saat kembali lagi ke
sana, ternyata bayi yang dipilih sudah diambil orang lain. Ini adalah bentuk
perjuangan sepasang suami istri untuk memiliki anak walau bukan melalui darah
dagingnya langsung. Ternyata juga tidak mudah. Namun, bukan berarti orang tak
memiliki anak adalah termasuk golongan yang terpuruk atau hina. Mereka juga
dipilih oleh Allah dengan diuji kesabarannya dalam mendapatkan buah hati. Di
setiap perjuangan untuk mendapatkan keturunan, jika ikhlas karena Allah maka
akan bernilai pahala.
Bukan berarti orang yang dimudahkan mendapatkan keturunan
adalah beruntung. Itu juga merupakan ujian. Apakah dengan keberadaan anak
semakin dekat kepada Allah atau tidak. Ada juga orang yang setelah memiliki anak
kadar imannya justru semakin turun. Semakin bakhil, enggan bersedekah dengan
alasan buat sekolah anaknya. Kalau menuruti hawa nafsu begitu, sampai kapan pun
malas bersedekah. Akan selalu ada alasan.
Baik yang sudah punya anak atau belum, keduanya adalah ujian.
Yang telah memiliki anak, bagaimana mereka mendidik anaknya agar bisa menjadi
pribadi yang shalih atau shalihah. Sementara yang belum punya anak, diuji
kesabarannya berulang-kali berusaha program hamil tetapi belum juga berhasil.
Mentalnya diuji agar tahan banting agar tidak mudah putus asa dan selalu
husnuzdon dengan Allah.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber gambar: dream.co.id |
Anak adalah
Titipan
Titipan anak dari Allah adalah sarana bekal di akhirat.
Ketika ada pasangan suami istri sudah memiliki anak berarti ada tambahan amanah
baginya. Jangan sampai keberadaannya sebagai ajang untuk pamer diri. Ini lho
anak saya lucu, pintar, berprestasi dan sukses. Jangan sampai ada kesombongan
sebesar dzarrah pun. Sebab anak adalah titipan. Mudah saja Allah mencabut
kenikmatan dengan kematian buah hati, anaknya memiliki penyakit serius,
tiba-tiba mengalami kecelakaan yang mana kondisi fisik tidak sesempur dahulu
dan lain sebagainya.
Setiap dari kita memiliki harapan atau keinginan tak lupa selalu
dilantunkan dalam bait-bait doa di waktu-waktu mustajab. Namun, doa manusia tak
semuanya dikabulkan. Kemungkinan doa manusia ada tiga:
1. Ada yang langsung dikabulkan di dunia, seperti kisah Nabi
Ayub
2. Diganti Allah dijauhkan dari musibah
3. Doanya disimpan, nanti diberi di akhirat
Ada orang yang memiliki dosa yang sangat banyak, seakan sudah
habis amalnya untuk menutupi dosa tersebut hingga akan masuk ke neraka. Tapi
ternyata orang ini rajin berdoa dan ada belum dikabulkan di dunia. Saat di
akhirat amalan doa ini menjadi penolongnya. Bisa membantu tidak masuk neraka.
Mengapa Amalan
Tidak Semua Dikabulkan di Dunia?
Mungkin muncul pertanyaan kenapa Allah tidak mengabulkan di
dunia? Dunia adalah tempat beramal bukan tempat memberi balasan.
Sementara akhirat adalah tempat pembalasan.
Seperti juga ceramah dari Ustad Khalid Basalamah yang
menyampaikan para penghuni surga justru menolak doanya dikabulkan di dunia.
Mereka ingin doanya ditahan agar bisa dipanen di surga nanti.
Tidak semua amalan kebaikan dikabulkan di dunia. Mengapa
semua amalan tidak dikabulkan di dunia? Sebab tidak cukup. Sebagai contoh
shalat dua rakaat sebelum subuh, lebih baik dari dunia seisinya. Jika amalan
ini langsung dikabulkan tidak bakal cukup.
Ahli maksiat tidak semua dibalas di dunia. Sebab dunia tidak
mampu ditempati balasan tersebut.
Jadi, bagi saudara yang merasa telah banyak berdoa tapi belum
dikabulkan di dunia. Jangan pesimis. Doa kita tidak ada yang sia-sia. Niatkan
doa sebagai ibadah. Insya Allah nanti akan dipanen di akhirat kelak. Salah
satunya bisa menjadi sarana penolong agar selamat panasnya neraka.
Ummu Sulaim pernah menitipkan anaknya, Anas bin Malik kepada
Rasulullah karena tidak memiliki kemampuan finansial yang baik. Ia menitipkan
kepada Rasulullah agar menjadi anak yang sholih. Anas bin Malik ikut Rasulullah
selama sebelas tahun.
Rasulullah mendoakan Anas bin Malik agar menjadi pemuda yang
kaya dan memiliki anak banyak. Doa Rasulullah diijabah langsung oleh Allah.
Anas bin Malik memiliki 120 anak dan punya harta yang banyak.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber gambar: liputan6.com |
Mengenai Orang-Orang yang Diberi Anak
Dalam surat Assyura ayat 50-51. Tentang orang-orang yang
diberi anak:
1. Ada yang diberi anak perempuan semua
2. Ada kalanya diberi anak laki-laki semua. Seperti kisah Nabi
Yakub anaknya dua belas laki-laki semua dan hampir semuanya nakal. Kecuali si
bungsu Yusuf anaknya sholih. Anak nomor satu sampai sebelas bersekongkol dan
sepakat mau membunuh Yusuf.
3. Ada yang diberi anak laki-laki dan perempuan
4. Ada diantara mereka yang tidak diberi anak. Contoh nabi
Muhammad dengan Aisyah, tidak diberi keturunan. Malaikat jibril menyampaikan
salam lewat Rasulullah untuk Aisyah dan Khadijah. Hanya dua orang yang mendapat
salam dari Allah.
Aisyah
adalah salah satu orang yang mendapatkan salam dari Allah saja tidak diberi
anak meski ia telah berdoa. Berarti bagi saudara yang hingga kini belum diberi
anak tidak usah bersedih. Sebab Aisyah yang termasuk muslimah pilihan Allah
tidak dikabulkan doa permintaan anaknya di dunia. Padahal mudah saja Allah
mengabulkan doa beliau. Hanya saja, Allah ingin menunda doanya itu agar dipanen
di akhirat kelak. Apalagi kita yang belum sesholih Aisyah, wajar jika doanya
belum diikabulkan di dunia.
Bila seseorang berdoa ingin punya anak tapi tidak dikabulkan
di dunia. Jika nanti di surga, anak yang diidam-idamkan akan dikabulkan Allah.
Dimudahkan hamil, melahirkan dalam waktu singkat.
Beberapa
Keadaan Anak
Dalam tinjauan Al-Quran, anak ada beberapa keadaan:
1. Anak diberi Allah sebagai hiasan hidup yang selalu indah
begitu dilihat
2. Anak sebagai ujian (Surat Al-Anfal ayat 28)
Ujian putranya Nabi Nuh. Diajak berbuat baik tapi tidak
mau. Terkadang orangtuanya shalih tapi anaknya tidak shalih. Begitu sebaliknya,
anaknya shalih, orangtuanya tidak shalih.
Ada seorang
anak yang lahir dari keluarga yang tidak kenal agama. Anak itu bermain dengan
teman-temannya. Dia diajak ikut pengajian. Karena saking pandainya sang ustadz
menjelaskan, si anak tersebut sepulang ngaji berjanji tidak akan meninggalkan
shalat. Anak itu bilang ke orangtuanya untuk dibelikan sarung dan kopyah. Setelah
dibelikan, si anak menjadi rajin shalat.
Saat waktu
subuh ia ingin menjalankan shalat subuh berjamaah di masjid. Tapi dia takut dan
bingung karena suasana masih gelap. Beruntung ada kakek yang lewat. Si anak
mengikuti kakek hingga ke masjid. Begitu seterusnya, setiap subuh anak ini
ngikuti kakek dari belakang sampai ke masjid.
Hingga suatu
hari, anak ini menunggu sang kakek tapi kok enggak kelihatan. Berhari-hari sang
kakek tidak kelihatan. Si anak mencari informasi keberadaan kakek tersebut,
ternyata beliau sudah meninggal dunia. Anak itu kecewa dan menangis seharian
penuh di kamar.
Melihat
tingkah aneh si anak, orangtuanya penasaran dan bertanya kenapa menangis sampai
sehari penuh. Si anak itu pun cerita kalau dia kecewa karena kakek yang sering
dia ikuti setiap waktu subuh sudah meninggal dunia. Anak tersebut bilang kenapa
dia kecewa kakek itu meninggal. Sebab si anak yakin kalau kakek itu yang bisa
menuntun ke surga. Bapak ibu yang membesarkan dia tapi tidak bisa menuntun ke
surga. Akhirnya bapaknya menangis, menyesali karena selama ini tidak
mengajarkan anaknya agama. Setelah itu sang bapak berubah menjadi dekat dengan
agama. Sekarang jadi ahli jamaah shalat di masjid.
Kalau ada anak kecil yang dibawa orangtuanya ke masjid meski
hanya lari-lari, ia dapat pahala seperti orang shalat. Jadi jika ada orangtua
membawa anak kecil di masjid, jangan diusir. Tapi memang perlu dikondisikan
agar tidak membuat gaduh. Namun, jangan sampai memarahi anak berlebihan
sehingga membuat trauma. Pada akhirnya jadi takut ke masjid.
Pahala
seorang anak yang ikut ke masjid itu sama dengan orang dewasa yang menjalankan
shalat. Bersumber dari seorang ibu yang sedang melakukan thawaf. Dia bertemu
Rasulullah lalu bertanya ke beliau, “Apakah anak yang saya bawa naik haji dapat
ganjaran haji?” Rasulullah pun menjawab, “Iya, sedang Anda ibunya dapat pahala
tambahan.”
3. Ada anak yang diciptakan Allah dalam keadaan lemah imannya.
Namun untuk saat ini sudah banyak pendidikan agama seperti sekolah tahfidz. Banyak
orangtua yang telah peduli dengan agama.
4. Anak sebagai musuh
Ada orangtua bawa anak lapor kepada Umar. Si bapak
bilang kalau anaknya ini “ngeyelan.” Umar lalu tanya ke anak itu.
“Apa kamu
durhaka kepada orangtua, berani sama orangtua?”
Jawabnya, “Iya”
Umar tanya lagi, “Kenapa bersikap seperti itu?”
Si anak bilang, “Sesungguhnya bapak tidak mengerjakan
kewajiban yang semestinya dikerjakan orangtua.”
Apa saja kewajibannya:
a. Bapak tidak memilihkan ibu terbaik. Ibu didapatkan berasal
dari tempat yang buruk
b. Bapak tidak pernah diberi pendidikan agama yang baik
c. Anak tidak diberi nama yang baik
Umar pun berkata, “Sesungguhnya Bapak sudah durhaka ke anak,
maka anak durhaka ke orangtua.”
Dari kisah ini diambil hikmahnya. Sebelum orangtua menyalahkan
anak dengan sebutan anak nakal. Coba berkaca pada diri sendiri, apakah selama
ini sudah mendidiknya dengan baik. Apakah selama ini sudah menjadi suri
taudalan yang baik bagi anaknya.
Keunggulan
punya anak yang shalih
a. Ketika memiliki anak shalih, seluruh amal kebaikan yang dia
kerjakan akan diberikan juga pada orangtuanya. Sebelum anak dimasukkan ke TPA,
orangtua harus mengajari agama dulu ke anak. Minimal membaca Al-Fatihah. Jangan
apa-apa semua diserahkan ke guru TPA. Nanti yang panen pahala hanya guru saja.
Selama ini kita mengenal amal jariyah ada tiga yakni anak
shalih, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah. Ternyata tidak hanya itu. Ada tujuh amalan
yang pahalanya terus mengalir:
1. Orang yang mengajarkan ilmu
2. Orang yang mewariskan mushaf
3. Orang yang membangun masjid
4. Orang yang menanam pohon
5. Orang yang mengalirkan
sungai. Misal kerja bakti kampung membersihkan selokan. Terdapat kisah, ada
orang yang mondar-mandir saat berada di surga. Ternyata orang tersebut pernah
mengambil kotoran di masjid.
5. Orang yang membuat sumur.
Contohnya sumur sibel
6. Orang yang meninggalkan anak
shalih yang setiap hari mendoakan orangtuanya
b. Anak shalih akan terus mendoakan orangtua
c. Anak shalih akan bertemu orangtuanya di surga yang imannya
sama.
Ada kisah
orang shalih bernama Faruh. Istrinya sedang hamil tua. Farruh bilang ke istri
disuruh berangkat perang oleh khalifah, “Wahai istriku, apakah engkau siap
ditinggal berangkat perang?.” Sang istri pun bersedia ditinggal suami
berperang. Farruh meninggalkan uang 300 dinar untuk bekal istrinya.
Usai
suaminya berangkat perang, anaknya lalu lahir. Sang ayah perang selama 27
tahun. Setelah selesai berperang, Farruh pulang ke kampung naik kuda. Saat
Farruh masuk rumah, ada anak muda. Begitu melihat Farruh, langsung mengeluarkan
pedang dan mengancam. Dua orang tersebut duel. Keduanya dipisah setelah
mendengar suara adzan maghrib.
Saat masuk
ke masjid, Farruh kaget jamaahnya kok banyak. Usai shalat ada pengajian. Farruh
bertanya kepada seseorang siapa yang mengisi pengajian?. Yang ngisi pengajian
adalah Rabiah Arrofi gurunya Imam Malik bin Anas, gurunya Imam Syafii.
Sepulang
dari mengaji. Farruh bertanya kepada istri. Uang yang diberikan selama
ditinggal berperang untuk apa. Kok rumahnya tidak berubah, masih seperti biasa.
Sang istri pun menjawab, “Uang sudah habis digunakan untuk menyekolahkan anak
kita. Menyerahkan ke ulama-ulama untuk belajar agama. Tadi yang mengisi
pengajian adalah anak kita.” Farruh pun takjub dan merasa bangga terhadap istri
dan anaknya. Sang istri benar-benar membelanjakan uangnya untuk pendidikan
agama sang anak. Hasilnya kini sang anak menjadi ulama.
Dari materi
kajian ini bisa diambil kesimpulan bahwa bagi orangtua yang sudah memiliki
anak, didiklah agama dengan baik. Jangan hanya mengejar kesuksesan duniawi.
Anak di sekolahkan setinggi-tingginya agar dapat gelar dan mapan ekonominya.
Mapan secara ekonomi itu penting, tapi jangan sampai terlena lupa mendidik
agama. Justru pendidikan agama adalah nomor satu baru mengikuti pendidikan ilmu
yang lain. Wallahu’alam.
Sumber: materi kajian Ustadz Taufiqurrahman dan pengembangan
penulis





Komentar
Posting Komentar