Kehidupan manusia dihadapkan dua pilihan, untuk memilih surga
apa neraka. Masing-masing memiliki konsekuensi sendiri-sendiri. Jika ingin
memperoleh surga, maka menjadikan hidup di dunia sebagai tempat beramal. Di
dunia adalah tempat untuk berjuang. Sebab terkadang apa yang kita inginkan,
tidak dikabulkan di dunia karena memang dunia bukanlah tempat untuk membalas
sebuah amal. Tapi ladang untuk beramal. Kalau ingin mendapatkan surga, maka
kita juga harus mampu mengendalikan diri dari karakter buruk manusia. Apa saja
itu?
1. Manusia itu Dzalim dan Bodoh
Sesungguhnya Kami telah menawarkan
amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk
memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh manusia itu sangat zalim dan
sangat bodoh. (Al-Ahzab :72)
Perbuatan dzalim itu adalah menganiaya, membuat manusia
sengsara.
Contoh:
Dzalim untuk diri sendiri: merokok, tidak shalat
Dzalim pada orang lain: membunuh, korupsi
Dzalim pada alam: membuang sampah sembarangan
Pengertian bodoh ada dua:
- Tidak mengetahui perintah dan larangan Allah
- Mengetahui perintah dan larangan Allah tapi tidak
dipraktikkan.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber gambar: portalmadura.com |
2. Manusia Diciptakan Dalam Keadaan Lemah
Manusia terlahir dalam keadaan lemah sebagai contoh
saat lahir tidak langsung bisa jalan. Sedangkan hewan seperti ayam setelah
pecah telur dalam beberapa menit, anak ayam tersebut langsung bisa jalan. Kalau
manusia untuk bisa jalan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan lebih dari
satu tahun.
Allah hendak memberikan keringanan
kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah . (Annisa’:
28)
Allah-lah yang menciptakan kamu dari
keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah
itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah
(kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha
Mengetahui, Maha-kuasa. (Arrum: 54).
Manusia terlahir dalam keadaan lemah. Lalu berkembang,
setelah dewasa menjadi kuat, kemudian saat tua kembali lemah.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber gambar: rumaysho.com |
3. Manusia Penuh Keluh Kesah dan Kikir
Sungguh, manusia diciptakan
bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan
apabila mendapat kebaikan (harta) dia kikir. (Al-Ma’arij: 19-21).
Manusia apabila ditimpa musibah atau kesusahan
cenderung berkeluh kesah. Sebagai contoh ketika cuaca panas, langsung mengeluh,
“ Waduh kok panas ya.” Tapi ketika hujan deras, “ Wah kok ga panas-panas sih,
jemuran jadi ga cepat kering.” Apapun keadaannya selalu mengeluh.
Sebaliknya manusia jika mendapat kebaikan menjadi
kikir. Ketika mendapat rezeki berupa uang misalnya, memiliki kecenderungan
ingin menyimpan harta atau membelanjakan untuk kebutuhan. Begitu kikir saat
akan mengeluarkan uang untuk shadaqah. Salah satu cara menghilangkan kikir
adalah setiap hari shadaqah meski hanya sedikit. Sebagai contoh memasukkan
uang Rp 2000 ke dalam kotak infaq setiap hari. Kalau kesulitan mencari kotak
infaq yang harus setiap hari diisi, bisa juga dengan menyediakan wadah atau toples
bekas untuk menaruh uang shadaqah kita setiap hari. Nanti jika sudah terkumpul
sepekan atau sebulan dapat disedekahkan.
4. Manusia Mudah Tergesa-gesa
Dan berapa banyak kaum setelah Nuh,
yang telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Yang Maha Mengetahui, Maha
Melihat dosa hamba-hamba-Nya. (Al Isra’: ayat 17)
Sebagai contoh ketika manusia menginginkan sesuatu, ia
terus memanjatkan doa tapi begitu doanya tidak langsung dikabulkan langsung
mengeluh. Tergesa-gesa ingin segera doanya dikabulkan. Padahal tergesa-gesa itu
berasal dari syaitan dan lawannya sabar.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber gambar: muslimah.or.id |
5. Manusia Tidak Mau Bersyukur
Allah-lah yang menjadikan malam
untukmu agar kamu beristirahat padanya; (dan menjadikan) siang terang
benderang. Sungguh, Allah benar-benar memiliki karunia yang dilimpahkan kepada
manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al-Mu’min:
ayat 61)
Syukur itu adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya,
seperti pada malam hari untuk istirahat, sedangkan siangnya untuk menjemput
rezeki. Bentuk syukur dalam perbuatan seperti shalat, shadaqah dan lain-lain.
Demikian rangkuman kajian dari Ustad Prapto semoga
menjadikan kita bertambah ilmu dan mampu mempratikkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Sumber: Catatan kajian oleh Ustadz Suprapto di Masjid Al Furqon, Sungkul pada Ahad,
31 Maret 2019



Komentar
Posting Komentar