Langsung ke konten utama

5 Karakter Buruk Manusia




Kehidupan manusia dihadapkan dua pilihan, untuk memilih surga apa neraka. Masing-masing memiliki konsekuensi sendiri-sendiri. Jika ingin memperoleh surga, maka menjadikan hidup di dunia sebagai tempat beramal. Di dunia adalah tempat untuk berjuang. Sebab terkadang apa yang kita inginkan, tidak dikabulkan di dunia karena memang dunia bukanlah tempat untuk membalas sebuah amal. Tapi ladang untuk beramal. Kalau ingin mendapatkan surga, maka kita juga harus mampu mengendalikan diri dari karakter buruk manusia. Apa saja itu?



 1. Manusia itu Dzalim dan Bodoh

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh. (Al-Ahzab :72)

Perbuatan dzalim itu adalah menganiaya, membuat manusia sengsara.
Contoh:
Dzalim untuk diri sendiri: merokok, tidak shalat
Dzalim pada orang lain: membunuh, korupsi
Dzalim pada alam: membuang sampah sembarangan

Pengertian bodoh ada dua:   
- Tidak mengetahui perintah dan larangan Allah
- Mengetahui perintah dan larangan Allah tapi tidak dipraktikkan. 



Ilustrasi. Sumber gambar: portalmadura.com



2. Manusia Diciptakan Dalam Keadaan Lemah

Manusia terlahir dalam keadaan lemah sebagai contoh saat lahir tidak langsung bisa jalan. Sedangkan hewan seperti ayam setelah pecah telur dalam beberapa menit, anak ayam tersebut langsung bisa jalan. Kalau manusia untuk bisa jalan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun.

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah . (Annisa’: 28)

Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha-kuasa. (Arrum: 54).

Manusia terlahir dalam keadaan lemah. Lalu berkembang, setelah dewasa menjadi kuat, kemudian saat tua kembali lemah.


Ilustrasi. Sumber gambar: rumaysho.com 



3. Manusia Penuh Keluh Kesah dan Kikir


Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia kikir. (Al-Ma’arij: 19-21).

Manusia apabila ditimpa musibah atau kesusahan cenderung berkeluh kesah. Sebagai contoh ketika cuaca panas, langsung mengeluh, “ Waduh kok panas ya.” Tapi ketika hujan deras, “ Wah kok ga panas-panas sih, jemuran jadi ga cepat kering.” Apapun keadaannya selalu mengeluh.

Sebaliknya manusia jika mendapat kebaikan menjadi kikir. Ketika mendapat rezeki berupa uang misalnya, memiliki kecenderungan ingin menyimpan harta atau membelanjakan untuk kebutuhan. Begitu kikir saat akan mengeluarkan uang untuk shadaqah. Salah satu cara menghilangkan kikir adalah setiap hari shadaqah meski hanya sedikit. Sebagai contoh memasukkan uang Rp 2000 ke dalam kotak infaq setiap hari. Kalau kesulitan mencari kotak infaq yang harus setiap hari diisi, bisa juga dengan menyediakan wadah atau toples bekas untuk menaruh uang shadaqah kita setiap hari. Nanti jika sudah terkumpul sepekan atau sebulan dapat disedekahkan.


4. Manusia Mudah Tergesa-gesa

Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. (Al Isra’: ayat 17)


Sebagai contoh ketika manusia menginginkan sesuatu, ia terus memanjatkan doa tapi begitu doanya tidak langsung dikabulkan langsung mengeluh. Tergesa-gesa ingin segera doanya dikabulkan. Padahal tergesa-gesa itu berasal dari syaitan dan lawannya sabar.


Ilustrasi. Sumber gambar: muslimah.or.id 



5. Manusia Tidak Mau Bersyukur


Allah-lah yang menjadikan malam untukmu agar kamu beristirahat padanya; (dan menjadikan) siang terang benderang. Sungguh, Allah benar-benar memiliki karunia yang dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al-Mu’min: ayat 61)

Syukur itu adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, seperti pada malam hari untuk istirahat, sedangkan siangnya untuk menjemput rezeki. Bentuk syukur dalam perbuatan seperti shalat, shadaqah dan lain-lain.

Demikian rangkuman kajian dari Ustad Prapto semoga menjadikan kita bertambah ilmu dan mampu mempratikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: Catatan kajian oleh Ustadz Suprapto di Masjid Al Furqon, Sungkul pada Ahad, 31 Maret 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyembunyikan Infaq

Bulan suci ramadhan adalah bulan  yang penuh berkah. Sebagian besar umat muslim memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak amal sholih salah satunya dengan sedekah. Kotak infaq hampir setiap hari selalu terisi. Tidak heran jika hasil infaq di bulan ramadhan cukup banyak. Ada sebuah kejadian menarik saat menghitung uang infaq. Mungkin si pemberi infaq sudah pernah mendapatkan kajian ilmu tentang menyembunyikan sedekah. Beberapa video viral tentang seseorang yang membungkus uang seratus ribu dengan uang seribu. Saya pikir ini hanya sekadar video saja. Tapi ternyata ada yang menirukannya. Di sebuah mushola, saat penghitungan  uang infaq satu persatu uang lembaran dibuka, dirapikan dan dihitung. Sebagian besar berisi uang dua ribuan. Tapi untuk yang satu ini agak aneh. Uang dua ribuan tapi kok agak tebal. Setelah dibuka ternyata di dalamnya ada uang lima puluh ribu. Benar-benar tidak menyangka. Sebagian besar mengira bahwa orang ini ingin menyembunyikan sedekah. J...

Tak Ada yang Terlahir sebagai Produk Gagal

Ilustrasi. Sumber: pexels.com Manusia yang terlahir di dunia beragam bentuknya. Ada yang gemuk, kurus, cantik, ganteng, berwajah standard an lain sebagainya.  Namun ada pula yang memiliki keistimewaan fisik tangannya kecil,tak meiliki kaki, sulit berbicara dan mendengar. Ada juga yang memiliki penyakit langka yaitu kulitnya mengelupas.  Tadi pagi tak sengaja menemui seorang bocah sekira usia 10 tahun. Ia memakai kaos dan calana panjang biru.  Ilustrasi. Sumber: pexels.com                                                                             Sekilas tak ada yang aneh dari anak ini. Tapi,begitu diperhatikan dengan seksama ternyata ia mengalami masalah dengan kulit. Tampak kulit sekujur tubuhnya mengelupas, pecah-pecah kecoklatan.  K...

Berhenti Sejenak

  Sabtu, 27 Mei 2006 adalah tepat 14 tahun yang lalu terjadi gempa yang cukup besar di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter selama 57 detik. Kejadian ini menjadi sejarah tersendiri bagi kami yang merasakan gempa.   Saat itu aku tidak ada jadwal kuliah, posisinya di rumah. Pagi hari sekira pukul 05.55.03 tiba-tiba terjadi guncangan hebat. Seumur hidup baru merasakan gempa terbesar. Seisi rumah sudah pada keluar tinggal aku sendiri yang paling akhir.   Begitu satu langkah keluar rumah, genteng berjatuhan. Nyaris kena kepala. Di luar, nampak berjejer-jejer orang dengan raut wajah ketakutan, shock dan kebingungan.   Akibat dari gempa ini, tembok rumah terbelah. Alhamdulillah tidak terlalu parah. Daerah yang paling parah di Bantul. Kebetulan budheku yang domisili di Bantul termasuk menjadi korban gempa yang cukup parah. Rumahnya hampir rubuh. Berhenti Sejenak Mengingat Yang Di Atas   Saat gempa itu terjadi,...