Nasib kehidupan manusia berbeda-beda. Ada yang dengan mudah
mendapatkan rezeki harta dan memiliki keluarga yang masih utuh sehingga ia
dapatkan kebahagiaan di dunia. Namun, ada juga orang yang dipenuhi dengan ujian
berat, seperti yang dialami seorang ibu ini.
Suatu ketika ada seorang wanita sebut saja Kina sedang
mengadakan safar. Berhubung sudah waktunya ashar, ia bersama suami berhenti di
sebuah masjid. Begitu selesai shalat, Kina melipat mukena. Tiba-tiba datang
seorang ibu berjalan tertatih-tatih. Kina langsung melempar senyum. Ibu itu pun
langsung membalas dengan senyuman. Lalu ia mengambil kursi kecil untuk
menjalankan shalat. Masjid ini menyediakan kursi untuk para jamaah yang tidak
kuat berdiri.
Usai melipat mukena, Kina keluar mendekati suami yang tengah
duduk di teras masjid. Mereka istirahat sebentar untuk melepaskan lelah. Tak
lama kemudian, ibu tadi keluar dari masjid menuju tempat sampah. Nampak ia
memilah-memilah botol plastik untuk ditempatkan wadah tersendiri. Melihat aksi ibu tadi, hati Kina terketuk dan malu. “Waduh ibu yang sudah tua saja mau
merapikan sampah tapi saya yang masih muda malah diam saja. Padahal kalau tidak
salah kaki ibu tadi agak sulit untuk berjalan,” batin Kina.
| iIlustrasi. Sumber: kabar.news |
Berhubung sang suami sudah cukup istirahat, ia mengajak Kina
pulang. Kina tak sempat membantu membereskan sampah karena terburu-buru pulang. Suami
berjalan menuju tempat sandal. Tempat ia berdiri tak jauh dari ibu tadi. Ibu ini tiba-tiba menyuruh suami Kina untuk mengambilkan sandal sebab ia kesulitan
membungkuk.
Setelah dibantu, ibu itu berjalan mendekat kepada Kina yang
sedang memakai sepatu. Ia bercerita kepada Kina, kalau dirinya dulu adalah penjaga
parkir masjid ini. Makanya bapak yang bawa mobil tadi memberi uang Rp2000,-. “Oh
pantesan tadi membereskan sampah karena memang pernah kerja di sini,” batin
Kina. Tapi kini ibu tersebut tidak lagi menjadi penjaga parkir karena semenjak
terjatuh tulang belakangnya patah sehingga sulit untuk berjalan. Lalu Kina pun
bertanya, “Ibu rumahnya mana?.”
“Saya tidak punya rumah,” jawab ibu tanpa beban.
Deg, jawaban itu membuat Kina kaget “Anaknya ibu di mana?”
“Anak saya sudah meninggal saat berumur satu tahun”
“Lalu suami ibu?”
“Suami saya sudah meninggal satu tahun yang lalu.”
Hati Kina berdesir. Ia menanyakan lagi.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber gambar: mozaik.inilah.com |
“Aslinya ibu mana?”
“Saya asli Kartasura.”
“Berarti punya rumah di sana?”
“Rumah saya dipakai adik saya.”
“Lalu sekarang tinggal di mana?”
“Saya tinggal di situ, ikut juragan.”
“Ah tidak apa-apa ibu tidak punya rumah, hidup di dunia hanya
sementara.”
Ibu tersebut mengiyakan sembari tersenyum.
Kina semakin terenyuh tak tega mendengar kisah ibu tadi.
Sudah tak memiliki rumah, anak, dan suami bahkan fisiknya saja lemah. Siapa
yang dengan tulus ikhlas mau merawat ibu ini.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber gambar: benankmerah.co |
Bayang-bayang sosok ibu itu terus hadir dalam pikiran Kina.
Saat ia sedang memijit suami yang kelelahan, Kina teringat ibu tersebut. Siapa
yang mau memijit badan ibu dikala ia merasa kelelahan. Bersyukur masih memiliki
orang-orang tersayang yang mau menerima dengan ikhlas. Merekalah
yang bakal berada di sisi kita di saat senang maupun susah.
Mendengar kejadian ini membuat kita lebih banyak bersyukur.
Ternyata masih ada orang kehidupannya di bawah kita. Harta tak punya, keluarga
tercinta tak ia miliki bahkan fisiknya sudah tak sehat. Sementara kita yang
baru diuji seujung kuku masih sering mengeluh. Astaghfirullah semoga kisah tadi
menjadi instrospeksi kita semua.


Komentar
Posting Komentar