Kita ketahui sajadah merupakan alas
yang biasa digunakan umat muslim saat beribadah. Mungkin maksud si pembuat agar
bisa sembahyang di mana pun berada. Untuk sebuah masjid yang tidak menyediakan
karpet, sedangkan cuaca udara dingin alas ini sangat membantu. Begitu juga
lantai yang nampak kotor, sementara jamaah merasa tidak nyaman jika shalat di
tempat tersebut, sajadah dapat menopang jalannya ibadah. Pada waktu tertentu
alas ini memang cukup bermanfaat menunjang sembahyang kaum muslim. Namun, di
sisi lain ada satu hal yang sedikit mengganggu keberadaan sajadah.
Saat ini tak sedikit orang yang
hendak shalat di masjid membawa sajadah. Sebagian besar digemari oleh kaum
hawa. Meski masjid sudah menyediakan karpet yang banyak dan bagus, mereka tetap
memilih membawa alas ibadah sendiri. Memang siapa saja boleh membawa sajadah
guna menunjang ibadah agar lebih nyaman.
Tapi jangan sampai keberadaannya justru mengurangi nilai ibadah itu
sendiri.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber: jambi.tribunnews.com |
Seringkali terjadi saat shalat
didirikan ditemui beberapa shaf yang kosong. Melihat hal itu, mereka tidak
segera bergeser ke kanan atau ke kiri agar shaf rapat. Jamaah yang tanpa
memakai sajadah lebih ringan dan mudah untuk berpindah tempat. Sementara bagi
jamaah yang sudah menggelar sajadah sebagian besar enggan berpindah. Nah,
di sinilah yang menjadi titik permasalahan. Harusnya keberadaan sajadah
menjadikan kita semakin baik ibadahnya tapi justru dengan adanya alas tersebut
orang jadi malas merapatkan shafnya. Bukankah shaf yang rapat adalah keutamaan
shalat berjamaah?
Selain itu, adanya sajadah membuat
antara jamaah satu dengan yang lain tidak rapat. Apalagi ukuran sajadah ada
yang besar dan kecil, sehingga ada senggang beberapa centimeter dengan jamaah
lain. Bukankah disunnahkan meluruskan shaf dan membuat rapat antara pundak dan
kaki.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber: dream.co.id |
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma,
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian,
ratakan pundak-pundak kalian, isilah yang kosong, bersikap lemah lembutlah
terhadap tangan-tangan saudara-saudara kalian, dan jangan kalian biarkan ada
yang kosong untuk diisi oleh setan. Barangsiapa yang menyambungkan shaf, Allah
pasti akan menyambungkannya dan barangsiapa yang memutuskan shaf, Allah pasti
akan memutuskannya.” (HR. Abu Daud, sanadnya hasan) (HR. Abu Daud, np 666; An-Nasa’i,
no. 820. Al-Hafidz Abu hahir mengatakan bahwa sanad hadist ini hasan).
![]() |
| Ilustrasi. Sumber: muslimobsession.com |
Muncul sebuah dilema. Di satu sisi,
sajadah dapat membantu seseorang dalam beribadah tapi di sisi lain justru
membuat ketidaksempurnaan shaf sebuah shalat jamaah. Mungkin salah satu
solusinya adalah menggunakan sajadah dengan tepat. Jika sebuah masjid sudah
disediakan karpet yang bersih, jamaah tak perlu membawa alas untuk ibadah.
Kalau pun ingin bawa sajadah bawalah sajadah kecil yang hanya mengalasi bagian
muka sehingga tidak mengganggu kerapatan sebuah shaf jamaah. Atau bisa pula
tetap membawa sajadah besar, hanya saja tidak harus mengikuti ukuran sajadah
yang digunakan. Jika sekiranya antara jamaah terdapat celah yang besar, bagian
pinggir sajadah bisa saling ditumpuk.
Semoga artikel ini menjadi kesadaran
kita semua untuk meluruskan dan merapatkan shaf saat shalat berjamaah. Di sini
bukan berarti menyalahkan keberadaan sajadah, tapi bagaimana agar alas ibadah
tersebut bisa digunakan sebagaimana mestinya. Wallahu’alam.



Komentar
Posting Komentar