Kekayaan yang sebenarnya bukanlah ada pada banyaknya harta tapi kuncinya ada dalam hati. Meski tak terlalu besar penghasilannya, jika hati merasa cukup maka akan selalu mensyukuri keadaan. Tak merasa kurang. Tapi walau pendapatan hingga milyaran, jika ahtinya tidak kaya maka akan merasa kurang. Selalu berusaha menuruti keinginan.
Begitu juga yang dialami oleh seorang pembantu rumah tangga sebut saja Bu Inah. Ia bekerja mengasuh anak dengan gaji Rp 900.000 ribu perbulan. Tugasnya bekerja mulai hari senin sampai jumat, dari pagi hingga sore. Awalnya ia cukup mencintai pekerjaannya.
Setelah bekerja selama 3 bulan, ia mendapat tawaran kerja menjadi pembantu rumah tangga dengan gaji Rp 1.200.000,-. Tergiur dengan gaji yang lebih besar, ia pun memutuskan keluar dari pekerjaan sebelumnya dengan secara mendadak. Tiba-tiba langsung sms mengabari jika ia sudah tidak mau bekerja kembali. Bu Inah juga sekaligus mengabari sudah mendapat tempat kerja baru dengan gaji lebih besar. Tanpa ditanya majikan ia pun langsung menyebutkan nominal besaran gajinya.
Tentu keputusan keluar secara mendadak membuat majikan kebingungan mencari pengganti. Apalagi suami istri bekerja dari pagi hingga menjelang malam. Majikan pun meminta tolong Bu Inah untuk mencarikan pengganti. Untung dia menyanggupi dan langsung dapat pengganti baru.
Sebulan telah berlalu, Bu Inah tiba-tiba menghubungi kembali majikannya yang dulu dan meminta untuk kembali bekerja di situ. Ia merayu-rayu kalau sudah menyayangi anak bungsu majikan. Namun sayangnya sifat buruk Bu Inah muncul, ia menceritakan keburukan pengasuh pengganti itu. Meski Bu Inah merayu dan menjelekkan pengasuh baru, tak membuat majikan bergeming. Mereka tetap menolak karena anak-anaknya sudah akrab dengan pengasuh baru.
Setelah ditelusuri penyebab Bu Inah keluar dari tempat kerja baru meski dapat gaji 1,2 juta tapi pekerjaannya tak hanya mengasuh, harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu. Padahal rumahnya cukup besar, Bu Inah kuwalahan. Akhirnya ia putuskan keluar padahal baru bekerja selama sepekan. Saat ini ia malah menjadi pengangguran, memohon-mohon majikan lama untuk menerimanya kembali. Tapi sayang nasi sudah jadi bubur, akibat orang yang kurang bersyukur.
Itu tadi menggambarkan orang yang kurang bersyukur. Ditambah lagi perilakunya yang kurang sopan secara terang-ternagan membandingkan gaji di tempat baru lebih besar. Tapi ternyata gajinya besar, pekerjaannya pun lebih berat. Intinya sama saja. Gaji sedikit pekerjaan lebih ringan. Gaji lebih besar tanggung jawabnnya bertambah besar. Pentingnya mesyukuri setiap keadaan. Sebab semua keadaan di dunia ini sudah sempurna, hanya bagaimana kita menyikapinya. Mau dengan perilaku positif apa negatif?
*Tafi Ikhta*
Sumber: Kejadian di sekitar penulis
Begitu juga yang dialami oleh seorang pembantu rumah tangga sebut saja Bu Inah. Ia bekerja mengasuh anak dengan gaji Rp 900.000 ribu perbulan. Tugasnya bekerja mulai hari senin sampai jumat, dari pagi hingga sore. Awalnya ia cukup mencintai pekerjaannya.
![]() |
| Ilustrasi pengasuh anak. Sumber: olx.co.id |
Setelah bekerja selama 3 bulan, ia mendapat tawaran kerja menjadi pembantu rumah tangga dengan gaji Rp 1.200.000,-. Tergiur dengan gaji yang lebih besar, ia pun memutuskan keluar dari pekerjaan sebelumnya dengan secara mendadak. Tiba-tiba langsung sms mengabari jika ia sudah tidak mau bekerja kembali. Bu Inah juga sekaligus mengabari sudah mendapat tempat kerja baru dengan gaji lebih besar. Tanpa ditanya majikan ia pun langsung menyebutkan nominal besaran gajinya.
Tentu keputusan keluar secara mendadak membuat majikan kebingungan mencari pengganti. Apalagi suami istri bekerja dari pagi hingga menjelang malam. Majikan pun meminta tolong Bu Inah untuk mencarikan pengganti. Untung dia menyanggupi dan langsung dapat pengganti baru.
![]() |
| Ilustrasi. Sumber: finance.detik.com |
Sebulan telah berlalu, Bu Inah tiba-tiba menghubungi kembali majikannya yang dulu dan meminta untuk kembali bekerja di situ. Ia merayu-rayu kalau sudah menyayangi anak bungsu majikan. Namun sayangnya sifat buruk Bu Inah muncul, ia menceritakan keburukan pengasuh pengganti itu. Meski Bu Inah merayu dan menjelekkan pengasuh baru, tak membuat majikan bergeming. Mereka tetap menolak karena anak-anaknya sudah akrab dengan pengasuh baru.
Setelah ditelusuri penyebab Bu Inah keluar dari tempat kerja baru meski dapat gaji 1,2 juta tapi pekerjaannya tak hanya mengasuh, harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu. Padahal rumahnya cukup besar, Bu Inah kuwalahan. Akhirnya ia putuskan keluar padahal baru bekerja selama sepekan. Saat ini ia malah menjadi pengangguran, memohon-mohon majikan lama untuk menerimanya kembali. Tapi sayang nasi sudah jadi bubur, akibat orang yang kurang bersyukur.
![]() |
| Ilustrasi pengangguran. Sumber: glints.com |
Itu tadi menggambarkan orang yang kurang bersyukur. Ditambah lagi perilakunya yang kurang sopan secara terang-ternagan membandingkan gaji di tempat baru lebih besar. Tapi ternyata gajinya besar, pekerjaannya pun lebih berat. Intinya sama saja. Gaji sedikit pekerjaan lebih ringan. Gaji lebih besar tanggung jawabnnya bertambah besar. Pentingnya mesyukuri setiap keadaan. Sebab semua keadaan di dunia ini sudah sempurna, hanya bagaimana kita menyikapinya. Mau dengan perilaku positif apa negatif?
*Tafi Ikhta*
Sumber: Kejadian di sekitar penulis



Komentar
Posting Komentar