Setiap ahad pagi, selalu diadakan kajian di Masjid Raya. Sudah dua pekan tidak mengaji. Kali ini kami kuatkan niat harus berangkat.
Meski agak terlambat dan terburu-buru akhirnya sampai juga di masjid.
Parkiran sudah hampir penuh, peserta kajian membludak hingga banyak yang duduk di luar.
Sembari tengok sana sini mencari tempat duduk yang pas karena sebagian besar sudah penuh.
Tibalah pintu tengah, bagian paling belakang masih ada tempat duduk sedikit. Tepat di tangga masuk. Cukuplah untuk dua orang.
Sesampai di situ saya langsung menuju tempat duduk yang kosong. Bersamaan dengan itu ada ibu yang sudah sepuh sembari membawa tongkat ikut duduk di samping saya.
Karena bersebelahan saya coba menyapa dan berbincang.
"Ibu ke sini dengan siapa?," sembari mengulurkan tangan.
"Sendiri, tadi diantar anak sampe SMP Muhammadiyah 1."
"Di SMP ada acara apa Bu?"
"Ada kajian Aisyiah."
"Lha ke sini naik apa?"
"Jalan kaki. Kalo ada yang nawari bonceng yang saya mbonceng."
"Nanti kalau pulang dijemput putranya ya Bu?"
"Enggak Mbak, anak saya ada undangan jagong di Semarang. Nanti saya naik becak."
"Banyak becak ya bu di sini?"
"Iya, kalo ga nanti lambai tangan ke tukang becak di depan kantor pos, udah datang sendiri."
"Lha rumah ibu mana?"
"Daerah Krapyak."
MasyaAllah seorang ibu begitu semangat menuntut ilmu, meski berjalan memakai tongkat
Ah, paling usia ibu ini baru 60-an tahun, mungkim karena pernah sakit, ya pakai tongkat.
Diliat dari aura sepertinya ibu ini orang berpendidikan.
***
"Hei bu cari apa?," tanya ibu tadi kepada seorang wanita paruh baya.
"Sandal, saya lupa naruh dimana."
"Warnanya apa bu?" tanyaku menyela.
"Biru."
"Mungkin ini?"
"Bukan mbak."
Ibu berlalu sembari mencari sandal.
Rasa penasaran begitu membuncah ingin tahu apa profesi ibu ini. Dengan memberanikan diri aku bertanya.
"Ibu, guru ya?"
"Iya mbak."
Ah untung tebakanku benar. Kalo enggak bisa malu juga nih," gumamku.
"Ngajar di mana bu?"
"Di SMA 1."
"Ngajar apa?"
"Biologi."
"Mbak, ibu tadi juga teman mengaji Aisyiyah Di SMP 1 Muhammadiyah, dia juga guru mbak. Tapi pensiunnya di bawah saya jauh sekitar 15 tahunan."
Hah, dibawah hingga belasan tahun. Lha terus usia ibu ini berapa? Kalau 60- tahunan kan ga mungkin. Pensiun guru rata-rata di usia 60 tahun. semakin penasaran dengan usia ibu ini.
"Dulu ibu pensiun usia berapa? Pura-pura bertanya seakan ga tau usia pensiun guru. Padahal aslinya tahu, apalagi aku terlahir dari keluarga besar guru.
"Enam puluh tahun mbak. Usia saya sudah 80 tahun."
"Ah masak sih bu?"
"Iya, nih lihat kulitnya dah keriput," tangan kirinya sedikit membuka baju pada tangan kanan."
"Ah, tapi ibu tidak kelihatan. Tadi saya kira usianya 60 tahun." Kupikir seusia dengan ibuku.
Luar biasa dengan semangat ibu ini menuntut ilmu. Bahkan leaflet materi kajian beliau baca dengan saksama. Tampak memang bukan orang awam. Dengan minatnya membaca dan mau menuntut ilmu di usia senja itu menunjukkan salah satu orang yang memang terbiasa berkecimpung di dunia pendidikan. Tak harus jadi guru, tapi paling tidak punya minat belajar yang tinggi.
Teringat dengan kakek saya meski usianya sudah mendekati 90 tahun, kegemaran membaca masih terus berlangsung. Bahkan setiap hari sekira pukul 09.00 selalu membiasakan diri membaca buku di depan rumah. Walau hanya sekitar satu jam, tapi paling tidak beliau termasuk orang yang haus ilmu hingga akhir hayat.
Meski agak terlambat dan terburu-buru akhirnya sampai juga di masjid.
Parkiran sudah hampir penuh, peserta kajian membludak hingga banyak yang duduk di luar.
Sembari tengok sana sini mencari tempat duduk yang pas karena sebagian besar sudah penuh.
Tibalah pintu tengah, bagian paling belakang masih ada tempat duduk sedikit. Tepat di tangga masuk. Cukuplah untuk dua orang.
Sesampai di situ saya langsung menuju tempat duduk yang kosong. Bersamaan dengan itu ada ibu yang sudah sepuh sembari membawa tongkat ikut duduk di samping saya.
Karena bersebelahan saya coba menyapa dan berbincang.
"Ibu ke sini dengan siapa?," sembari mengulurkan tangan.
"Sendiri, tadi diantar anak sampe SMP Muhammadiyah 1."
"Di SMP ada acara apa Bu?"
"Ada kajian Aisyiah."
"Lha ke sini naik apa?"
"Jalan kaki. Kalo ada yang nawari bonceng yang saya mbonceng."
"Nanti kalau pulang dijemput putranya ya Bu?"
"Enggak Mbak, anak saya ada undangan jagong di Semarang. Nanti saya naik becak."
"Banyak becak ya bu di sini?"
"Iya, kalo ga nanti lambai tangan ke tukang becak di depan kantor pos, udah datang sendiri."
"Lha rumah ibu mana?"
"Daerah Krapyak."
MasyaAllah seorang ibu begitu semangat menuntut ilmu, meski berjalan memakai tongkat
Ah, paling usia ibu ini baru 60-an tahun, mungkim karena pernah sakit, ya pakai tongkat.
Diliat dari aura sepertinya ibu ini orang berpendidikan.
***
"Hei bu cari apa?," tanya ibu tadi kepada seorang wanita paruh baya.
"Sandal, saya lupa naruh dimana."
"Warnanya apa bu?" tanyaku menyela.
"Biru."
"Mungkin ini?"
"Bukan mbak."
Ibu berlalu sembari mencari sandal.
Rasa penasaran begitu membuncah ingin tahu apa profesi ibu ini. Dengan memberanikan diri aku bertanya.
"Ibu, guru ya?"
"Iya mbak."
Ah untung tebakanku benar. Kalo enggak bisa malu juga nih," gumamku.
"Ngajar di mana bu?"
"Di SMA 1."
"Ngajar apa?"
"Biologi."
"Mbak, ibu tadi juga teman mengaji Aisyiyah Di SMP 1 Muhammadiyah, dia juga guru mbak. Tapi pensiunnya di bawah saya jauh sekitar 15 tahunan."
Hah, dibawah hingga belasan tahun. Lha terus usia ibu ini berapa? Kalau 60- tahunan kan ga mungkin. Pensiun guru rata-rata di usia 60 tahun. semakin penasaran dengan usia ibu ini.
"Dulu ibu pensiun usia berapa? Pura-pura bertanya seakan ga tau usia pensiun guru. Padahal aslinya tahu, apalagi aku terlahir dari keluarga besar guru.
"Enam puluh tahun mbak. Usia saya sudah 80 tahun."
"Ah masak sih bu?"
"Iya, nih lihat kulitnya dah keriput," tangan kirinya sedikit membuka baju pada tangan kanan."
"Ah, tapi ibu tidak kelihatan. Tadi saya kira usianya 60 tahun." Kupikir seusia dengan ibuku.
Luar biasa dengan semangat ibu ini menuntut ilmu. Bahkan leaflet materi kajian beliau baca dengan saksama. Tampak memang bukan orang awam. Dengan minatnya membaca dan mau menuntut ilmu di usia senja itu menunjukkan salah satu orang yang memang terbiasa berkecimpung di dunia pendidikan. Tak harus jadi guru, tapi paling tidak punya minat belajar yang tinggi.
Teringat dengan kakek saya meski usianya sudah mendekati 90 tahun, kegemaran membaca masih terus berlangsung. Bahkan setiap hari sekira pukul 09.00 selalu membiasakan diri membaca buku di depan rumah. Walau hanya sekitar satu jam, tapi paling tidak beliau termasuk orang yang haus ilmu hingga akhir hayat.



Komentar
Posting Komentar